Kaligrafi tradisional Jepang yang dikenal dengan nama shodo direkomendasikan untuk masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pemerintah Jepang mengumumkan rekomendasi tersebut pada Kamis.
Rekomendasi ini disampaikan oleh badan evaluasi UNESCO. Keputusan resmi mengenai pencatatannya dijadwalkan dibahas dalam sidang Komite Antarpemerintah UNESCO di Xiamen, China, pada 30 November hingga 5 Desember 2026.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyambut baik kabar tersebut melalui unggahan di media sosial X. Ia mengaku sangat senang karena shodo, yang merupakan bagian penting dari warisan budaya Jepang, dinilai layak mendapat pengakuan UNESCO.
Dalam penilaiannya, badan evaluasi UNESCO menyebut shodo masih banyak dipraktikkan di Jepang dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui sekolah, klub, serta berbagai kegiatan pendidikan.
UNESCO menilai pencatatan shodo dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya dan seni kaligrafi yang ditulis dengan tangan. Pengakuan ini juga diharapkan mendorong dialog antarbudaya.
Shodo merupakan seni menulis huruf menggunakan kuas dan tinta, dengan memanfaatkan karakter kanji serta kana. Menurut Badan Urusan Kebudayaan Jepang, negara tersebut mengembangkan gaya kaligrafi khasnya sendiri setelah karakter China diperkenalkan ke Jepang.
Jika resmi masuk dalam daftar UNESCO, shodo akan menjadi warisan budaya takbenda Jepang yang ke-24. Daftar tersebut juga mencakup pengetahuan dan keterampilan tradisional dalam pembuatan sake serta shochu.
Sebagai informasi, Dewan Urusan Kebudayaan Jepang memilih shodo sebagai kandidat untuk diajukan ke UNESCO pada 2023. Dokumen pencalonannya kemudian diserahkan pada 2025 hingga akhirnya memperoleh rekomendasi dari badan evaluasi UNESCO.
Sc : JT








