Industri layanan pesan antar makanan di Jepang tengah mengalami perubahan besar. Persaingan yang semakin ketat membuat sejumlah perusahaan memilih menghentikan operasionalnya, sehingga pasar kini semakin terkonsentrasi pada tiga pemain utama, yaitu Uber Eats Japan, Rocket Now, dan Demae-can.
Uber Eats Japan yang berasal dari Amerika Serikat masih menjadi pemain terbesar dengan jarak cukup jauh dari para pesaingnya. Sementara itu, Rocket Now dioperasikan oleh perusahaan e-commerce asal Korea Selatan, Coupang. Adapun Demae-can merupakan layanan lokal asal Jepang.
Uber Eats mulai beroperasi di Jepang pada 2016. Berkat jaringan bisnis internasional dan merek yang sudah dikenal luas, perusahaan ini terus memperluas jangkauannya. Hingga Oktober 2026, jumlah pesanan yang terkumpul sejak pertama kali beroperasi di Jepang telah melampaui 1 miliar.
Menurut perusahaan riset asal Amerika Serikat, Sensor Tower, Uber Eats Japan memiliki sekitar 6,2 juta pengguna aktif bulanan (MAU). Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh pengguna layanan pesan antar makanan di Jepang menggunakan aplikasi Uber Eats.
Industri ini sebelumnya berkembang pesat selama pandemi COVID-19. Ketika masyarakat mengurangi aktivitas makan di luar, semakin banyak perusahaan masuk ke bisnis pesan antar makanan. Pada satu periode, lebih dari tujuh perusahaan bersaing untuk menarik pelanggan.
Namun, strategi promosi besar-besaran, termasuk pemberian kupon diskon, membuat biaya operasional semakin membebani perusahaan. Akibatnya, sejumlah layanan mulai meninggalkan pasar Jepang.
Wolt, perusahaan asal Finlandia, menghentikan layanannya di Jepang pada Maret 2026. Setelah itu, Menu, layanan yang dioperasikan anak perusahaan KDDI, juga mengakhiri operasionalnya pada akhir September.
Di sisi lain, Demae-can masih menghadapi masalah keuangan. Perusahaan tersebut mencatat kerugian bersih selama delapan tahun berturut-turut dalam laporan keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal yang berakhir pada Agustus 2026.
Sementara itu, Rocket Now yang masuk ke pasar Jepang pada Januari 2025 berkembang dengan cepat. Layanan ini menarik pelanggan melalui penawaran harga makanan yang sama dengan harga di restoran, tanpa biaya pengantaran maupun biaya layanan. Hingga September 2026, jumlah unduhan aplikasinya secara kumulatif telah melampaui 8 juta. Dari sisi pengguna aktif bulanan, Rocket Now kini berada di posisi kedua di industri tersebut.
Kehadiran Rocket Now juga mendorong Uber Eats dan Demae-can untuk menerapkan model harga yang sama dengan harga di restoran. Persaingan pun semakin ketat, terutama dalam menawarkan harga murah kepada pelanggan.
Meski menguntungkan konsumen dalam jangka pendek, seorang pakar industri memperingatkan bahwa persaingan yang hanya mengandalkan harga bisa menjadi masalah. Perusahaan dengan modal lebih besar berpotensi menguasai pasar, sementara dalam jangka panjang konsumen dan restoran justru bisa dirugikan jika pilihan layanan semakin sedikit.
Sc : JT








