Menu

Dark Mode
Rusa “Nyasar” di Osaka Akhirnya Ditangkap, Tak Bisa Dipulangkan ke Nara Presiden Prabowo Dijadwalkan Kunjungan Kenegaraan ke Jepang 29-31 Maret 2026 Harga BBM Jepang Turun Tajam Usai Tembus Rekor, Disubsidi Besar-Besaran Salah Orang Selama 16 Tahun, Pemerintah Kota di Jepang Minta Maaf Setelah Pungut Uang Pajak dari Orang yang Salah Jepang Uji Coba AI untuk Deteksi Kanker Lewat X-ray, Beban Dokter Diharapkan Berkurang Anime Jack-of-All-Trades, Party of None Dipastikan Lanjut ke Season 2

Teknologi

Jepang Ciptakan Alat AI untuk Menilai Lemak Tuna Tanpa Harus Dipotong

badge-check


					Jepang Ciptakan Alat AI untuk Menilai Lemak Tuna Tanpa Harus Dipotong Perbesar

Perusahaan teknologi Jepang Fujitsu Ltd. meluncurkan alat inspeksi ultrasonik berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengukur kadar lemak pada ikan tuna albacore beku—tanpa perlu memotong atau mencairkannya terlebih dahulu.

Alat ini diciptakan untuk menggantikan metode tradisional yang selama ini bergantung pada penilaian manusia, yang cenderung subjektif dan membutuhkan waktu. Dalam dunia perdagangan ikan, kadar lemak (marbling) sangat menentukan nilai jual tuna, terutama untuk keperluan sushi kelas atas.

Biasanya, penilai harus memotong bagian ekor tuna dan mencairkannya untuk memeriksa kualitas. Tapi pendekatan ini bergantung pada keahlian individu, dan jumlah penilai berpengalaman makin langka.

Untuk menjawab masalah tersebut, Fujitsu mulai melakukan riset bersama Universitas Tokai sejak tahun 2022. Hasilnya adalah metode non-destruktif yang menggunakan gelombang ultrasonik dari empat arah untuk menganalisis struktur bagian dalam ikan.

Gelombang yang dipantulkan dianalisis oleh program AI, yang kemudian bisa menilai tingkat lemak dengan akurasi lebih tinggi dibanding penilaian manusia. Proyek ini juga didukung oleh produsen mesin Ishida Tech, yang membantu mengembangkan prototipe menjadi produk nyata.

Dalam demonstrasi yang digelar pada 9 April, seekor tuna beku diletakkan di atas ban berjalan. Gelombang ultrasonik pun langsung diterapkan, dan sistem secara otomatis menampilkan hasil seperti “berlemak tinggi” atau “rendah lemak.”

Jika penilaian manual memakan waktu sekitar satu menit, alat ini hanya butuh 12 detik saja. Bahkan, seluruh ikan dalam satu tangkapan kini bisa diperiksa secara otomatis—sesuatu yang dulu dianggap tidak mungkin karena butuh waktu terlalu lama.

Produk ini akan mulai dijual pada Juni 2025 dengan harga sekitar 30 hingga 35 juta yen (sekitar Rp3 hingga Rp3,5 miliar).

Ke depannya, Fujitsu berencana menyempurnakan alat ini agar bisa digunakan untuk menilai jenis ikan lainnya seperti yellowfin tuna, bigeye tuna, dan bonito. Mereka juga tengah mengembangkan fitur tambahan untuk mengukur tingkat kesegaran dan tekstur ikan, selain kadar lemak.

Sc : asahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Uji Coba AI untuk Deteksi Kanker Lewat X-ray, Beban Dokter Diharapkan Berkurang

25 March 2026 - 16:10 WIB

Polisi Jepang Rekomendasikan Aplikasi Pemblokir Panggilan untuk Cegah Penipuan Telepon

9 March 2026 - 16:10 WIB

Industri Pariwisata Jepang Dinilai Perlu Bangun Kepercayaan Lokal Sebelum Maksimalkan AI

7 March 2026 - 14:10 WIB

Mahasiswi Jepang Ciptakan Robot “Egois” agar Lansia Lebih Sering Keluar Rumah

6 March 2026 - 10:10 WIB

Startup Jepang Uji Terbang Mobil Terbang di Tokyo, Targetkan Operasi Komersial 2028

25 February 2026 - 13:10 WIB

Trending on Teknologi