Menu

Dark Mode
Manga “Fungus and Iron” Karya Ayaka Katayama Akan Diadaptasi Menjadi Anime TV Roket Swasta Jepang Kairos No.3 Batalkan Misi Setelah 68 Detik Mengudara Seiyuu Senior Reiko Katsura Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun Mahasiswi Jepang Ciptakan Robot “Egois” agar Lansia Lebih Sering Keluar Rumah Kereta Lokal di Prefektur Yamanashi Jepang Tergelincir, 42 Penumpang Selamat Tanpa Cedera Kosakata Jepang untuk Tagihan & Pembayaran

TRAVEL

Ginzan Onsen Kewalahan Hadapi Ledakan Wisatawan, Pembatasan Pengunjung Diterapkan

badge-check


					Ginzan Onsen Kewalahan Hadapi Ledakan Wisatawan, Pembatasan Pengunjung Diterapkan Perbesar

Ginzan Onsen, sebuah kota pemandian air panas yang tenang di Prefektur Yamagata, Jepang, kini menghadapi masalah serius akibat overtourism. Keindahan arsitektur bergaya Taisho dan suasana klasik yang menawan justru membuat tempat ini dibanjiri wisatawan, memaksa pemerintah setempat menerapkan pembatasan jumlah pengunjung.

Dulunya kawasan tambang perak yang berkembang menjadi destinasi wisata pemandian, Ginzan Onsen dikenal luas berkat drama NHK “Oshin” dan disebut-sebut menjadi inspirasi visual film Spirited Away. Popularitasnya juga meningkat karena kemiripannya dengan “desa pandai besi” dalam manga Demon Slayer.

Pada tahun fiskal 2023, lebih dari 334.000 wisatawan mengunjungi area ini — 25 kali lipat dari jumlah penduduknya yang hanya sekitar 13.000 jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 20.000 merupakan turis asing, dan angka itu terus meningkat.

Namun, lonjakan wisatawan memunculkan dampak negatif: kemacetan di jalan masuk satu-satunya ke kawasan onsen, gangguan pada kendaraan darurat, dan keramaian di gang sempit. Penduduk lokal juga mengeluhkan sampah yang ditinggalkan turis.

Sebagai respons, untuk pertama kalinya kota Obanazawa bersama asosiasi onsen menerapkan sistem pembatasan masuk bagi pengunjung harian dari Desember 2024 hingga Februari 2025. Wisatawan harus memarkir kendaraan mereka sekitar 1 km dari area onsen dan naik bus antar-jemput berbayar. Tiket masuk harus dipesan terlebih dahulu, dan jumlah pengunjung dibatasi hingga 100 orang per jam pada sore hingga malam hari.

Hasilnya cukup menggembirakan. Tingkat kemacetan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan hanya 43 persen pengunjung yang merasa kawasan tersebut ramai. Bahkan, 95 persen responden survei mendukung pembatasan tersebut.

Namun, sistem ini masih memiliki celah. Banyak turis berkumpul sebelum jam pembatasan dimulai untuk menghindari pembelian tiket, yang justru memicu keramaian lebih awal.

Ketua asosiasi onsen, Eiji Wakimoto, mengatakan bahwa kebijakan ini akan terus disempurnakan. Pihak berwenang kini mempertimbangkan untuk memperluas pembatasan sepanjang tahun demi menjaga ketertiban dan suasana khas Ginzan.

“Kami ingin orang-orang bisa menikmati waktu yang tenang di Ginzan, bahkan sampai bisa mendengar salju yang jatuh,” kata Kentaro Koseki, pemilik salah satu ryokan tertua di sana.

Dengan Jepang yang mencatat rekor kunjungan wisatawan asing tahun lalu, Ginzan Onsen menjadi contoh penting dalam menangani lonjakan wisata sambil tetap menjaga warisan budaya dan keindahan alamnya.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kyoto Naikkan Pajak Penginapan hingga 10.000 Yen, Himeji Castle Juga Naikkan Harga Tiket untuk Turis Nonresiden

3 March 2026 - 10:10 WIB

Cara Memilih Lokasi Hotel Jepang yang Benar-benar Strategis

19 February 2026 - 19:10 WIB

Berani Dateng? Jepang Buka “Zombie Ship” di Laut Lepas, Horor 2 Jam Tanpa Jalan Kabur

18 February 2026 - 16:10 WIB

Cara Menentukan Jumlah Baju Ideal untuk Trip Jepang

3 February 2026 - 11:30 WIB

Cara Menyesuaikan Pace Jalan Kaki di Jepang Biar Nggak Cepat Tumbang

2 February 2026 - 08:00 WIB

Trending on TRAVEL