Menu

Dark Mode
Terminal 1 Haneda Diperluas Seiring Meningkatnya Aktivitas Penerbangan Polisi Gerebek Petinggi Yakuza yang Sedang Berduaan di Hotel Bareng Aktris JAV Mulai November 2026, Sistem Tax Free Jepang Berubah: Wisatawan Harus Bayar Pajak Dulu WN Taiwan Ditangkap di Jepang, Diduga Merusak Batu Peninggalan di Kuil Nara Jepang Lanjutkan Subsidi BBM, Harga Dijaga Sekitar ¥170 per Liter SCANDAL Umumkan Akan Bubar pada 2027

Teknologi

Mayoritas Perusahaan Besar Jepang Masih Enggan Gunakan AI dalam Rekrutmen Lulusan Baru

badge-check


					Mayoritas Perusahaan Besar Jepang Masih Enggan Gunakan AI dalam Rekrutmen Lulusan Baru Perbesar

Lebih dari separuh perusahaan besar di Jepang belum menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen lulusan baru, menurut survei terbaru Kyodo News. Hasil ini menunjukkan sikap hati-hati banyak perusahaan terhadap penggunaan AI untuk perekrutan, meskipun teknologi ini semakin umum digunakan di tempat kerja.

Dari 117 perusahaan lintas industri yang disurvei—termasuk Mitsubishi Heavy Industries Ltd. dan Nippon Telegraph and Telephone Corp.—sebanyak 64 perusahaan menyatakan tidak menggunakan AI dalam rekrutmen mereka. Sementara itu, 36 perusahaan melaporkan telah menggunakan AI dalam berbagai bentuk, dengan 19 di antaranya menyebut analisis formulir lamaran sebagai penggunaan yang paling umum.

Tujuh perusahaan menggunakan AI untuk menganalisis wawancara daring, sedangkan lainnya memanfaatkan teknologi tersebut dalam peran tambahan seperti mentranskripsi wawancara atau menjawab pertanyaan dari pelamar. Namun, tidak ada satu pun perusahaan yang mengatakan mereka menggunakan AI untuk menilai wawancara tatap muka.

Survei yang dilakukan antara pertengahan Maret hingga awal April ini juga mengungkapkan kekhawatiran perusahaan terhadap potensi bias dalam penilaian berbasis AI serta keraguan atas kemampuan teknologi tersebut untuk secara akurat mengevaluasi kemampuan mahasiswa.

Beberapa perusahaan menyatakan bahwa penggunaan AI yang dilatih dengan data perekrutan internal bisa “mengurangi keberagaman,” sementara yang lain menekankan pentingnya komunikasi langsung antara perekrut dan kandidat.

Di sisi lain, perusahaan yang aktif menggunakan AI berpendapat bahwa teknologi ini dapat meningkatkan keadilan dalam proses seleksi dengan mengurangi ketergantungan pada penilaian subjektif individu—pandangan yang sangat kontras dengan perusahaan yang justru khawatir AI akan membawa bias tersendiri.

Pemerintah Jepang sendiri telah menyatakan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap AI untuk pengambilan keputusan penting seperti rekrutmen adalah hal yang “tidak pantas,” sebagaimana tercantum dalam pedoman yang dirilis bulan Maret lalu.

Dari 36 perusahaan yang menggunakan AI dalam proses seleksi mereka, 32 menyatakan bahwa mereka memperhatikan pedoman tersebut, menunjukkan pendekatan yang hati-hati dalam penggunaan teknologi ini untuk keputusan akhir. Sementara itu, 17 perusahaan tidak memberikan jawaban jelas mengenai penggunaan AI dalam perekrutan mereka.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Terminal 1 Haneda Diperluas Seiring Meningkatnya Aktivitas Penerbangan

26 August 2026 - 18:10 WIB

Polisi Gerebek Petinggi Yakuza yang Sedang Berduaan di Hotel Bareng Aktris JAV

26 August 2026 - 16:14 WIB

Mulai November 2026, Sistem Tax Free Jepang Berubah: Wisatawan Harus Bayar Pajak Dulu

26 August 2026 - 16:14 WIB

WN Taiwan Ditangkap di Jepang, Diduga Merusak Batu Peninggalan di Kuil Nara

26 August 2026 - 12:10 WIB

Jepang Lanjutkan Subsidi BBM, Harga Dijaga Sekitar ¥170 per Liter

26 August 2026 - 10:10 WIB

Trending on News