Masyarakat Jepang kini menilai meningkatnya kekuatan militer China sebagai ancaman keamanan terbesar bagi negara mereka, menggeser kekhawatiran terhadap rudal nuklir Korea Utara. Hal ini terungkap dalam hasil survei pemerintah Jepang yang dirilis pada Jumat.
Dalam survei tersebut, 68 persen dari 1.534 responden menyebut kemajuan teknologi militer China serta aktivitas militernya di sekitar wilayah Jepang dan di Laut China Selatan sebagai sumber kekhawatiran utama. Angka ini meningkat dari 61 persen saat survei serupa terakhir dilakukan tiga tahun lalu.
Survei yang berlangsung selama lima minggu ini dimulai pada 6 November, sehari sebelum Perdana Menteri Sanae Takaichi memicu ketegangan diplomatik terburuk dengan Beijing dalam lebih dari satu dekade. Saat itu, Takaichi menyatakan bahwa Jepang dapat mengerahkan pasukannya jika serangan China terhadap Taiwan—yang diperintah secara demokratis—dinilai sebagai ancaman eksistensial bagi Jepang.
China menuntut agar pernyataan tersebut dicabut, mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang hendak ke Jepang, serta mengancam akan membatasi ekspor logam tanah jarang yang merupakan komponen penting dalam rantai pasok industri. Beijing juga melakukan latihan militer di dekat Jepang dan, pada pekan lalu, menggelar latihan perang di sekitar Taiwan yang melibatkan rudal, kapal perang, dan pesawat tempur.
Survei yang sama juga menunjukkan dukungan publik terhadap militer Jepang berada pada level tertinggi sepanjang sejarah. Sebanyak 94 persen responden menyatakan memiliki pandangan positif terhadap Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces).
Hasil survei ini muncul di tengah persiapan pemerintahan Takaichi untuk merumuskan rencana pertahanan berikutnya, yang diperkirakan akan kembali meningkatkan anggaran pertahanan.
Di bawah konstitusi pascaperang yang disusun dengan pengaruh Amerika Serikat, Jepang melepaskan hak untuk berperang. Meski demikian, Jepang tetap menjadi salah satu negara dengan belanja militer terbesar di dunia. Pemerintah kini menggandakan anggaran pertahanan hingga mencapai 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebagai upaya mencegah China menggunakan kekuatan militer untuk mengejar ambisi teritorialnya di Asia Timur.
Sementara itu, Beijing menuduh Jepang memperkeruh ketegangan kawasan melalui rencana militernya dan memperingatkan Tokyo akan mengalami “kekalahan telak” jika ikut campur dalam isu Taiwan, yang diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya.
Sc : JT








