Pengadilan Distrik Tokyo pada Rabu (23/10) memutuskan bahwa memanggil rekan kerja perempuan dengan akhiran “-chan” di tempat kerja termasuk pelecehan yang melampaui batas yang dapat diterima. Dalam kasus ini, seorang mantan pegawai perempuan berusia 40-an yang bekerja di kantor cabang Sagawa Express menggugat mantan rekan pria yang lebih tua, menuntut ganti rugi sekitar 5,5 juta yen. Pengadilan memerintahkan pria tersebut membayar 220.000 yen sebagai kompensasi.
Menurut putusan, sejak sekitar tahun 2020, pria tersebut memanggil perempuan itu dengan “-chan” dan beberapa kali mengatakan hal seperti “kawaii” (imut) dan “taikei yoi yo ne” (badanmu bagus, ya). Perempuan itu kemudian didiagnosis mengalami depresi pada tahun 2021 dan akhirnya mengundurkan diri. Pria tersebut telah dikenai sanksi teguran keras oleh perusahaan.
Hakim Shinji Tahara menyatakan bahwa penggunaan “-chan” adalah cara memanggil yang ditujukan untuk anak kecil dan tidak diperlukan dalam konteks pekerjaan. Meskipun pria itu mengaku bermaksud menunjukkan keakraban, tindakannya tetap menimbulkan ketidaknyamanan. Ia juga menilai rangkaian perkataan tersebut merupakan “perilaku tidak pantas yang menimbulkan rasa malu.”
Perempuan itu juga menggugat Sagawa Express atas dasar tanggung jawab atasan (pengawasan karyawan). Pada Februari tahun ini, kasus dengan perusahaan diselesaikan lewat mediasi, di mana Sagawa Express setuju membayar 700.000 yen sebagai uang penyelesaian.
Sc : Nikkei







