Menu

Dark Mode
Film Live-Action BLUE LOCK Rilis Trailer Baru, Tayang 7 Agustus Kereta Shinkansen Tertunda 3 Menit, Petugas Ketiduran di Ruang Istirahat Jepang Siapkan Aturan Verifikasi Usia Lebih Ketat di Media Sosial untuk Lindungi Anak Dua Kebakaran Hutan Terjadi Bersamaan di Iwate, Ribuan Warga Diminta Mengungsi Prefektur Ibaraki Siapkan Imbalan bagi Pelapor Pekerja Asing Ilegal Mulai 11 Mei Film Live-Action Gundam Mulai Produksi, Netflix Tambah Deretan Aktor Baru

News

Harga Beras Melonjak, PM Shigeru Ishiba Janji Turunkan ke Bawah 4.000 Yen

badge-check

Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba pada hari Rabu (14/5) berjanji akan mengambil langkah-langkah penting untuk menurunkan harga beras, yang telah naik dua kali lipat dalam setahun terakhir. Namun, ia kembali menolak permintaan dari kubu oposisi untuk menurunkan pajak konsumsi sebagai bentuk dukungan kepada rumah tangga.

Dalam debat langsung di parlemen bersama para pemimpin oposisi, Ishiba menyatakan bahwa ia berkomitmen untuk menurunkan harga beras ke bawah 4.000 yen (sekitar Rp370 ribu) per 5 kilogram dari level rata-rata saat ini 4.268 yen pada awal Mei, dan bersedia mempertaruhkan jabatannya demi mencapai target tersebut.

Kenaikan harga beras disebabkan oleh gagal panen dan meningkatnya permintaan seiring dengan lonjakan wisatawan asing yang menikmati berbagai hidangan berbahan dasar nasi di Jepang.

“Saya percaya harga beras seharusnya berada di kisaran 3.000 yen. Bertahan di angka 4.000 yen itu tidak wajar. Kami akan menurunkannya secepat mungkin,” ujar Ishiba yang kini berada di bawah tekanan untuk mengendalikan inflasi.

Ketika ditantang oleh anggota oposisi apakah ia bersedia bertanggung jawab jika gagal memenuhi janji tersebut, Ishiba menjawab, “Saya rasa memang seharusnya begitu.” Namun upaya pemerintah sejauh ini, termasuk melepaskan cadangan beras darurat, belum menunjukkan hasil signifikan.

Ishiba juga mengecam keras usulan oposisi untuk menurunkan tarif pajak konsumsi, menyebutnya sebagai “strategi populis untuk meraih suara” menjelang pemilu majelis tinggi musim panas ini.

“Kalau ingin menurunkan pajak, harus disertai rencana menyeluruh bagaimana menutup kekurangan pendapatan pajak dan menjaga sistem jaminan sosial,” tegas Ishiba. Meskipun begitu, ia tidak memaparkan kebijakan baru untuk menanggulangi dampak kenaikan harga.

Sementara itu, Ishiba belum menjelaskan langkah konkret dalam merespons kenaikan tarif impor AS oleh Presiden Donald Trump. Mantan Perdana Menteri Yoshihiko Noda dari Partai Demokrat Konstitusional Jepang mengkritik minimnya urgensi dan kesiapan pemerintah terhadap persoalan global tersebut.

Partai oposisi utama saat ini mengusulkan untuk menghapus pajak konsumsi atas bahan makanan selama satu tahun, dengan menggunakan dana pemerintah yang belum terpakai guna menutup kekurangannya. Noda sendiri pernah menjabat sebagai perdana menteri hingga Desember 2012.

Di kubu oposisi, Partai Demokrat untuk Rakyat dan Partai Inovasi Jepang juga menyerukan pemangkasan tarif pajak konsumsi, yang saat ini sebesar 8% untuk makanan dan minuman, dan 10% untuk barang dan jasa lainnya.

Menariknya, bahkan Partai Komeito, yang merupakan mitra koalisi junior dari Partai Demokrat Liberal pimpinan Ishiba, menyatakan dukungannya terhadap usulan pemotongan pajak konsumsi untuk bahan makanan.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kereta Shinkansen Tertunda 3 Menit, Petugas Ketiduran di Ruang Istirahat

23 April 2026 - 18:10 WIB

Jepang Siapkan Aturan Verifikasi Usia Lebih Ketat di Media Sosial untuk Lindungi Anak

23 April 2026 - 13:10 WIB

Dua Kebakaran Hutan Terjadi Bersamaan di Iwate, Ribuan Warga Diminta Mengungsi

23 April 2026 - 11:10 WIB

Prefektur Ibaraki Siapkan Imbalan bagi Pelapor Pekerja Asing Ilegal Mulai 11 Mei

23 April 2026 - 08:59 WIB

Pekerja Wahana Hiburan di Tokyo Tewas Usai Terjebak Saat Inspeksi

22 April 2026 - 12:53 WIB

Trending on News