Polisi Metropolitan Tokyo menangkap Munemasa Takahashi (40), kepala sindikat penipuan besar yang diyakini terlibat dalam ratusan kasus penipuan di Jepang, bersama enam orang lainnya.
Ketujuh tersangka diduga menipu seorang wanita berusia 80-an di kota Niiza, Prefektur Saitama, dengan mengambil empat kartu bank dan mencuri uang tunai senilai sekitar ¥4 juta (sekitar Rp420 juta) pada November 2024.
Korban ditipu lewat telepon dari seseorang yang berpura-pura sebagai pejabat Asosiasi Bankir Jepang, yang mengklaim bahwa uangnya sedang dipindahkan ke rekening lain untuk alasan keamanan.
Menurut Divisi Kejahatan Internasional Kepolisian Metropolitan, kelompok ini diyakini telah melakukan sedikitnya 500 kasus penipuan di Tokyo dan tiga prefektur lainnya sejak Februari 2023 hingga Oktober 2025, dengan total kerugian mencapai lebih dari ¥2,2 miliar (sekitar Rp260 miliar).
Selain Takahashi, dua tersangka lainnya yang disebut berperan penting adalah Hajime Omika (41) dan Taichi Kishinami (46), yang diduga memberikan instruksi dan mengelola uang hasil penipuan. Polisi belum mengungkapkan apakah mereka mengakui tuduhan tersebut.
Dalam penyelidikan, pihak berwenang menemukan bahwa sindikat ini merekrut anggota melalui media sosial dan berkomunikasi menggunakan aplikasi pesan terenkripsi untuk menghindari deteksi.
Para anggota yang bertugas mengambil uang korban bekerja dari pukul 9 pagi hingga 7 malam pada hari kerja, dan menerima komisi sebesar 3% hingga 10% dari jumlah uang yang berhasil mereka ambil.
Uang hasil kejahatan tersebut kemudian diserahkan kepada Takahashi setiap akhir pekan, setelah disembunyikan terlebih dahulu di loker stasiun, kotak pengiriman di apartemen, atau semak di pinggir jalan.
Hingga kini, sedikitnya 29 orang telah ditangkap dalam jaringan ini, termasuk mereka yang bertugas mengumpulkan uang tunai. Polisi menduga uang hasil kejahatan tersebut dialirkan ke kelompok kejahatan terorganisir.
Sc : JT







