Menu

Dark Mode
Jepang Siap Lepas Cadangan Minyak 20 Hari, Antisipasi Krisis Selat Hormuz China Salip Jepang, Kini Jadi Pemasok Mobil Terbesar di Australia Maskot Gundam “Haro” Direncanakan Terbang ke ISS untuk Uji Robot Luar Angkasa Jepang Siapkan Program 3 Tahun untuk Bantu Generasi “Employment Ice Age” Film Horor Exit 8 Siap Tayang di Amerika Utara, Trailer Terakhir Dirilis Film Gundam Hathaway 2 Rilis Trailer Dub Inggris, Siap Tayang di Bioskop AS Mei

News

Jepang Murka: China Masukkan 20 Perusahaan Pertahanan Jepang ke Daftar Larangan Ekspor

badge-check


					Jepang Murka: China Masukkan 20 Perusahaan Pertahanan Jepang ke Daftar Larangan Ekspor Perbesar

Pemerintah Jepang melayangkan protes keras kepada China setelah Beijing menambahkan 20 entitas Jepang yang terkait dengan sektor pertahanan ke dalam daftar larangan ekspor barang penggunaan ganda (dual-use). Pemerintah Jepang menuntut agar kebijakan tersebut segera dicabut.

Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Kei Sato, menyebut langkah China sebagai tindakan yang “sama sekali tidak dapat ditoleransi dan sangat disesalkan”. Dalam konferensi pers pada Selasa, ia mengatakan pemerintah Jepang akan menilai dampak kebijakan tersebut dan mempertimbangkan respons yang diperlukan.

Menurut Kementerian Luar Negeri Jepang, protes resmi disampaikan oleh Masaaki Kanai, Kepala Biro Urusan Asia dan Oseania, bersama pejabat senior Kedutaan Besar Jepang di China serta kementerian perdagangan.

Langkah terbaru China ini menyusul kebijakan pada 6 Januari lalu, ketika Beijing memperketat pembatasan ekspor barang dual-use ke Jepang. Barang-barang tersebut dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer dan diduga mencakup rare earth atau logam tanah jarang.

Rare earth merupakan material penting dalam pembuatan teknologi canggih, mulai dari kendaraan listrik hingga persenjataan. China saat ini mendominasi pasokan rare earth global, sehingga kebijakan ini berpotensi memberi dampak besar bagi industri Jepang.

Tekanan ekonomi Beijing terhadap Tokyo dilaporkan meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pernyataan di parlemen pada November lalu yang menyiratkan bahwa serangan terhadap Taiwan—wilayah demokratis yang diklaim China—dapat memicu respons dari Pasukan Bela Diri Jepang.

Anak perusahaan Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries termasuk di antara entitas yang masuk daftar larangan, menurut Kementerian Perdagangan China. Pihak Kawasaki menyatakan masih mengonfirmasi detail pembatasan tersebut.

Sementara itu, IHI Corp., yang dikenal sebagai pengembang dan produsen mesin pesawat untuk Kementerian Pertahanan Jepang, mengatakan pihaknya masih memverifikasi fakta setelah enam perusahaan dalam grupnya terdampak kebijakan tersebut.

Sejumlah perusahaan lain mengaku tidak mengetahui alasan mereka menjadi target dan menyampaikan kekhawatiran atas minimnya kejelasan. Yasuhide Yajima, eksekutif senior di NLI Research Institute, menilai operasional kebijakan ekspor China yang tidak transparan merusak prediktabilitas bagi perusahaan Jepang dan sulit dicari solusinya karena merupakan bagian dari kebijakan nasional Beijing.

Ketua federasi bisnis terbesar Jepang, Japan Business Federation, Yoshinobu Tsutsui, juga mendesak China untuk menarik kembali kebijakan yang menargetkan “perusahaan-perusahaan tertentu” dan meminta pemerintah Jepang mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan situasi ini.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Siap Lepas Cadangan Minyak 20 Hari, Antisipasi Krisis Selat Hormuz

11 April 2026 - 18:00 WIB

China Salip Jepang, Kini Jadi Pemasok Mobil Terbesar di Australia

11 April 2026 - 14:30 WIB

Jepang Siapkan Program 3 Tahun untuk Bantu Generasi “Employment Ice Age”

11 April 2026 - 10:10 WIB

Survei: Kekhawatiran Remaja Jepang terhadap Imigrasi Meningkat Tajam

10 April 2026 - 10:10 WIB

Bukan Manusia, Polisi di Sebuah Kota di Jepang Ini Tunjuk Anjing Shiba Inu Jadi “Inspektur”

10 April 2026 - 07:16 WIB

Trending on News