Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang pada Jumat memperkirakan permintaan beras dalam negeri akan naik tipis menjadi sekitar 7,11 juta ton hingga Juni 2026. Namun, produksi diproyeksikan mencapai 7,45 juta ton, sehingga surplus sekitar 480.000 ton diperkirakan dapat meredakan tekanan harga.
Peningkatan hasil panen ini didorong oleh perluasan area tanam sebagai respons atas kelangkaan sebelumnya. Stok beras di sektor swasta diperkirakan menembus hampir 2,3 juta ton pada akhir Juni, level yang terbilang tinggi dan mendekati rekor penumpukan stok pada 2015.
Perkiraan terbaru ini juga menandai berakhirnya asumsi lama pemerintah bahwa permintaan beras akan terus menurun akibat berkurangnya populasi dan meningkatnya konsumsi roti. Untuk pertama kalinya, proyeksi tersebut juga memasukkan faktor peningkatan permintaan dari wisatawan dan rumah tangga.
Lonjakan harga beras sejak tahun lalu dipicu oleh rendahnya hasil panen akibat gelombang panas ekstrem serta peralihan konsumen dari roti yang lebih mahal ke beras.
Pada Agustus lalu, pemerintah mengumumkan perubahan kebijakan dengan mendorong panen beras yang lebih besar di tahun-tahun mendatang melalui pemanfaatan lahan terbengkalai, sekaligus membantu petani memperluas jalur penjualan mereka.
Sc : JT







