Pemerintah Jepang menyusun peta jalan baru untuk mengembangkan teknologi fotosintesis buatan sebagai bagian dari upaya menuju net zero emisi gas rumah kaca pada 2050. Teknologi ini meniru proses fotosintesis alami dengan mengubah karbon dioksida, air, dan cahaya matahari menjadi bahan bakar serta bahan baku industri.
Fotosintesis buatan mencakup dua tahap penting: pemecahan air dan CO2 menggunakan listrik, serta pemicu reaksi kimia dengan cahaya. Namun, teknologi ini masih dalam tahap penelitian dan belum terbukti pada skala besar.
Menurut rencana yang disusun awal September, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menargetkan proses pemecahan air dan CO2 bisa tercapai pada 2030, dengan hasil akhirnya digunakan untuk bahan bakar penerbangan maupun bahan kimia industri.
“Fotosintesis buatan adalah pilar dalam membangun masyarakat bebas karbon. Teknologi ini akan melahirkan industri baru, memperkuat daya saing internasional Jepang, sekaligus membuka peluang ekspor teknologi,” kata Menteri Lingkungan Hidup Keiichiro Asao.
Pemerintah menargetkan produksi massal bahan kimia berbasis fotosintesis buatan pada 2040, sembari meningkatkan efisiensi dan menekan biaya agar bisa diadopsi secara luas. Untuk tahun fiskal berikutnya, kementerian mengajukan anggaran sekitar 800 juta yen (Rp 84 miliar) guna mendukung riset ini.
Meski ambisius, tantangan terbesar tetap pada rendahnya efisiensi konversi dan biaya tinggi. Jepang kini dituntut membuktikan bahwa kendala tersebut bisa diatasi agar teknologi ini layak diterapkan secara global.
Sc : KN







