Menu

Dark Mode
Jumlah Lansia Berusia 100 Tahun ke Atas di Jepang Capai Rekor 107.677 Orang Anime The Fable Musim Kedua akan Tayang Januari 2027, Teaser Trailer Dirilis Harga Tanah Rata-Rata di Jepang Naik untuk Tahun Kelima Berturut-Turut, Didukung Permintaan Perumahan dan Pariwisata Layanan Taksi Tanpa Sopir Pertama di Jepang Ditargetkan Berjalan di Tahun 2027 Anime Mobile Suit Gundam RG XARX-ZERO Akan Tayang di Jepang dan Amerika Utara pada April 2027 Viral! Ada Papan Peringatan yang Ditujukan Khusus ke Wisatawan Indonesia di Tateyama Kurobe

News

Jumlah Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Tembus 10.000 Kasus, Tertinggi dalam 11 Tahun

badge-check


					People walk outside a train station in the Akihabara district of Tokyo on May 9, 2024. (Photo by Richard A. Brooks / AFP) Perbesar

People walk outside a train station in the Akihabara district of Tokyo on May 9, 2024. (Photo by Richard A. Brooks / AFP)

Jumlah kebangkrutan perusahaan di Jepang pada tahun 2024 melampaui angka 10.000 untuk pertama kalinya dalam 11 tahun terakhir, menurut survei yang dilakukan oleh Tokyo Shoko Research. Bisnis menghadapi tekanan berat akibat kekurangan tenaga kerja yang semakin memburuk dan kenaikan harga bahan impor yang dipicu oleh pelemahan yen.

Kebangkrutan meningkat 15,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 10.006 kasus. Dari jumlah tersebut, 10.004 kasus melibatkan usaha kecil dan menengah. Total kewajiban perusahaan yang bangkrut tercatat sebesar 2,34 triliun yen (sekitar Rp218 triliun), turun 2,4 persen dari tahun 2023.

Pelemahan yen ke level terendah dalam 37 tahun terhadap dolar AS pada musim panas 2024 meningkatkan biaya impor bagi bisnis. Selain itu, kekurangan tenaga kerja yang semakin parah akibat populasi yang menua dan regulasi jam kerja yang lebih ketat memberikan tekanan besar pada sektor seperti konstruksi dan jasa.

Sektor jasa, termasuk restoran, mencatat jumlah kebangkrutan tertinggi dengan 3.329 kasus, meningkat 13,2 persen dan melampaui angka 3.000 untuk pertama kalinya sejak 1990. Sektor konstruksi menyusul dengan 1.924 kasus, naik 13,6 persen.

Jumlah kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja melonjak menjadi 289 kasus, rekor tertinggi dibandingkan 159 kasus pada tahun sebelumnya. Sementara itu, kebangkrutan akibat kegagalan menemukan penerus bisnis mencapai 462 kasus, juga mencatat rekor baru.

Beban keuangan yang disebabkan oleh biaya jaminan sosial dan pajak hampir dua kali lipat, dari 92 menjadi 176 kasus.

Tokyo Shoko Research menyebutkan bahwa meskipun beberapa bisnis dapat menghindari kebangkrutan melalui pembiayaan ulang pinjaman, mereka mungkin tetap menghadapi kesulitan jika tidak dapat memulihkan operasi bisnis mereka.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jumlah Lansia Berusia 100 Tahun ke Atas di Jepang Capai Rekor 107.677 Orang

16 September 2026 - 13:30 WIB

Harga Tanah Rata-Rata di Jepang Naik untuk Tahun Kelima Berturut-Turut, Didukung Permintaan Perumahan dan Pariwisata

16 September 2026 - 10:10 WIB

Layanan Taksi Tanpa Sopir Pertama di Jepang Ditargetkan Berjalan di Tahun 2027

15 September 2026 - 17:10 WIB

Viral! Ada Papan Peringatan yang Ditujukan Khusus ke Wisatawan Indonesia di Tateyama Kurobe

15 September 2026 - 15:10 WIB

Prefektur Yamanashi akan Pungut Biaya Evakuasi Helikopter di Gunung Fuji di Luar Musim Pendakian

15 September 2026 - 15:10 WIB

Trending on News