Pemerintah Prefektur Kagoshima menghadapi gelombang kritik atas rencana pemberian subsidi penuh tiket sekali jalan Shinkansen bagi wisatawan asing. Meski menuai penolakan, pejabat daerah membela kebijakan tersebut sebagai langkah strategis untuk mendorong pemulihan sektor pariwisata.
Program yang diumumkan dalam rancangan anggaran awal tahun fiskal 2026 itu akan mengalokasikan sekitar ¥278 juta (sekitar US$1,79 juta) dana publik untuk menanggung biaya tiket Kyushu Shinkansen senilai ¥11.420 untuk kursi non-reservasi. Rute yang disubsidi adalah dari Stasiun Hakata di Fukuoka menuju Stasiun Kagoshima-Chuo.
Untuk mendapatkan subsidi, wisatawan asing harus memesan melalui situs reservasi yang ditunjuk dan menginap minimal satu malam di akomodasi dalam wilayah Kagoshima.
Bagi Kagoshima, pemanfaatan Kyushu Shinkansen dipandang sebagai cara efektif menarik wisatawan mancanegara yang sudah lebih dulu tiba di kota gerbang seperti Fukuoka. Dengan kereta cepat tersebut, perjalanan dari Fukuoka ke Kagoshima dapat ditempuh dalam sekitar 90 menit.
Namun, kebijakan ini memicu lebih dari 170 telepon dan email ke pemerintah prefektur, sebagian besar berisi kritik. Banyak warga menyebut langkah tersebut “tidak adil” dan memberikan “perlakuan istimewa bagi orang asing,” serta mempertanyakan penggunaan pajak masyarakat Jepang untuk mensubsidi wisatawan luar negeri.
Di media sosial, sejumlah komentar mempertanyakan mengapa subsidi tidak diberikan kepada wisatawan domestik juga jika tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan.
Berdasarkan statistik pariwisata 2024, rata-rata pengeluaran wisatawan asing di Kagoshima mencapai sekitar ¥86.000 per orang, hampir tiga kali lipat dibandingkan wisatawan Jepang yang rata-rata membelanjakan sekitar ¥30.000.
Gubernur Kagoshima Koichi Shiota menyatakan bahwa program tersebut diperkirakan dapat menghasilkan dampak ekonomi sekitar ¥1,7 miliar dalam bentuk belanja wisata di dalam prefektur—jauh melampaui nilai subsidi yang dikeluarkan. Ia menegaskan kebijakan ini akan membantu meningkatkan “daya hasil” industri pariwisata daerah.
Langkah ini merupakan bagian dari alokasi anggaran lebih luas senilai ¥3,5 miliar dalam rancangan anggaran fiskal 2026 untuk memperkuat sektor pariwisata.
Pemerintah daerah juga menyoroti bahwa jumlah wisatawan asing yang menginap belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi. Penangguhan dan pembatalan sejumlah penerbangan internasional turut memicu kekhawatiran akan penurunan berkepanjangan jumlah kunjungan dan dampaknya terhadap perekonomian daerah.
Sc : JT








