Pada hari Jumat, Kaisar Naruhito, Permaisuri Masako, dan putri mereka, Putri Aiko, mengunjungi Nagasaki untuk memberikan penghormatan kepada korban bom atom 1945. Ini menjadi kunjungan terakhir keluarga kekaisaran pada tahun peringatan ke-80 berakhirnya Perang Dunia II.
Kunjungan ini adalah yang pertama bagi Kaisar Naruhito sejak naik tahta pada 2019, dan pertama bagi Putri Aiko. Keluarga kekaisaran meletakkan bunga di monumen di Taman Perdamaian Nagasaki, yang mencatat nama sekitar 200.000 korban bom atom, serta mengunjungi Museum Bom Atom Nagasaki.
Mereka juga bertemu dengan penyintas bom, termasuk Shigemitsu Tanaka, perwakilan Japan Confederation of A- and H-Bomb Sufferers Organizations, yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2024, dan para penggiat yang berusaha mewariskan ingatan tentang serangan nuklir itu.
Bom yang dijatuhkan pada 9 Agustus 1945 diperkirakan menewaskan sekitar 74.000 orang di Nagasaki hingga akhir tahun, dan banyak korban lainnya menderita efeknya bertahun-tahun kemudian.
Menurut Hideya Kawanishi, pakar urusan kekaisaran dari Universitas Nagoya, pertemuan seperti ini membantu generasi berikutnya memahami kisah korban bom atom, terutama saat penyintas asli semakin sedikit. Kehadiran Putri Aiko juga penting agar generasi muda bisa merasakan langsung cerita dan emosi dari pengalaman tersebut.
Keluarga kekaisaran akan bertemu warga panti jompo penyintas bom atom pada Sabtu, setelah itu Putri Aiko kembali ke Tokyo. Mereka juga akan menghadiri pembukaan Festival Budaya Nasional di Sasebo, Nagasaki.
Kunjungan ini mengikuti jejak sebelumnya, ketika Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako:
-
Mengunjungi Pulau Iwoto (Iwo Jima) pada April.
-
Memberikan penghormatan di Okinawa dan Hiroshima bersama Putri Aiko pada Juni.
-
Menghormati warga Jepang yang meninggal di kamp interniran di Mongolia pada Juli.
Menurut Kawanishi, rangkaian kunjungan ini menunjukkan keinginan Kaisar Naruhito yang kuat untuk perdamaian dan membantu masyarakat Jepang mengingat kembali sejarah perang, yang kini mulai terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Kaisar juga berharap generasi muda aktif belajar tentang sejarah perang agar cerita korban tetap hidup.
Sc : JT







