Menu

Dark Mode
Survei Jepang: Lebih dari Separuh Anak Muda Usia 20 Tahun Aktif Mencari Pasangan Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Naik Lagi pada 2025, Tekanan Tenaga Kerja dan Pelemahan Yen Jadi Faktor Utama Manga Click Me All Over Dapat Adaptasi Anime TV di Blok AnimeFesta Tidur Larut, Tetap Tepat Waktu: Irama Hidup Orang Jepang Sehari-hari Kosakata Jepang untuk Menunjukkan Kekaguman Tanpa Berlebihan Film Live-Action BLUE LOCK Umumkan Pemeran Pertama, Fumiya Takahashi Jadi Yoichi Isagi

News

Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Naik Lagi pada 2025, Tekanan Tenaga Kerja dan Pelemahan Yen Jadi Faktor Utama

badge-check


					Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Naik Lagi pada 2025, Tekanan Tenaga Kerja dan Pelemahan Yen Jadi Faktor Utama Perbesar

Laporan Tokyo Shōkō Research menunjukkan bahwa jumlah kebangkrutan perusahaan di Jepang dengan total kewajiban utang sebesar 10 juta yen atau lebih meningkat 2,9 persen secara tahunan pada 2025 menjadi 10.300 kasus. Ini merupakan tahun kedua berturut-turut jumlah kebangkrutan melampaui angka 10.000.

Perusahaan yang bangkrut termasuk Alt, sebuah perusahaan pengembang kecerdasan buatan yang terdaftar di bursa, setelah terungkap adanya ketidakwajaran dalam akuntansi. Meski demikian, total nilai kewajiban utang justru turun 32 persen menjadi 1,6 triliun yen, karena banyak kasus kebangkrutan melibatkan usaha mikro dengan kewajiban kurang dari 100 juta yen. Ini menjadi pertama kalinya dalam empat tahun terakhir total kewajiban kebangkrutan turun di bawah 2 triliun yen.

Jumlah kebangkrutan yang disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja mencetak rekor baru, seiring kenaikan upah dan kesulitan perusahaan dalam menarik pekerja. Pelemahan yen, dengan nilai tukar dolar sempat menembus 158 yen pada 2025, serta meningkatnya biaya impor juga mendorong kenaikan kebangkrutan akibat lonjakan harga untuk tahun ketiga berturut-turut.

Berdasarkan sektor industri, kebangkrutan meningkat secara tahunan pada tujuh dari sepuluh kategori, dengan penurunan hanya terjadi pada sektor grosir, keuangan dan asuransi, serta transportasi. Jumlah kebangkrutan terbesar tercatat di sektor jasa, dengan 3.478 kasus. Secara wilayah, peningkatan terjadi di tujuh dari sembilan kawasan, kecuali Hokkaido dan Chugoku.

Tokyo Shōkō Research menyatakan bahwa pada 2026 terdapat sejumlah faktor yang patut diwaspadai, termasuk kenaikan suku bunga setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan, dampak kebijakan tarif era Trump, serta memburuknya hubungan dengan China. Lembaga tersebut memperkirakan jumlah kebangkrutan akan meningkat secara bertahap hingga Maret tahun ini, yang menandai akhir tahun fiskal 2025.

Sc : nippon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Survei Jepang: Lebih dari Separuh Anak Muda Usia 20 Tahun Aktif Mencari Pasangan

27 January 2026 - 20:43 WIB

China Imbau Warganya Tunda Liburan ke Jepang saat Imlek di Tengah Ketegangan Politik

27 January 2026 - 14:10 WIB

Badai Salju Lumpuhkan Bandara New Chitose, 7000 Penumpang Terpaksa Menginap di Bandara

27 January 2026 - 11:10 WIB

Kurangi Beban Rakyat, PM Jepang Sanae Takaichi Targetkan Bebaskan Pajak Makanan Berlaku April Selama 2 Tahun

27 January 2026 - 10:10 WIB

Salju Lebat Terus Guyur Wilayah Pantai Laut Jepang, Transportasi Terancam Terganggu

26 January 2026 - 18:10 WIB

Trending on News