Menu

Dark Mode
71,7% Warga Jepang Khawatir Kondisi Keuangan Negara Memburuk Usai Pajak Makanan Dipangkas Warga Asing di Kumamoto Kesulitan Dapat Informasi Gempa, Hanya 3 dari 19 Kota Punya Layanan Khusus Menyamar Jadi Orang Asing, Pria Jepang Mencoba Merampok Sebuah Konbini di Gunma Berhasil Ditangkap Polisi Manga Leviathan Bakal Diadaptasi Jadi Film Live-Action, Tayang 2027 Kereta Ekspres Tabrak Pekerja di Jalur Rel Tochigi, 4 Orang Dilaporkan Tewas Pesawat Malaysia Airlines Keluarkan Asap Hitam di Narita, Lepas Landas Dibatalkan

News

Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Naik Lagi pada 2025, Tekanan Tenaga Kerja dan Pelemahan Yen Jadi Faktor Utama

badge-check


					Kebangkrutan Perusahaan di Jepang Naik Lagi pada 2025, Tekanan Tenaga Kerja dan Pelemahan Yen Jadi Faktor Utama Perbesar

Laporan Tokyo Shōkō Research menunjukkan bahwa jumlah kebangkrutan perusahaan di Jepang dengan total kewajiban utang sebesar 10 juta yen atau lebih meningkat 2,9 persen secara tahunan pada 2025 menjadi 10.300 kasus. Ini merupakan tahun kedua berturut-turut jumlah kebangkrutan melampaui angka 10.000.

Perusahaan yang bangkrut termasuk Alt, sebuah perusahaan pengembang kecerdasan buatan yang terdaftar di bursa, setelah terungkap adanya ketidakwajaran dalam akuntansi. Meski demikian, total nilai kewajiban utang justru turun 32 persen menjadi 1,6 triliun yen, karena banyak kasus kebangkrutan melibatkan usaha mikro dengan kewajiban kurang dari 100 juta yen. Ini menjadi pertama kalinya dalam empat tahun terakhir total kewajiban kebangkrutan turun di bawah 2 triliun yen.

Jumlah kebangkrutan yang disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja mencetak rekor baru, seiring kenaikan upah dan kesulitan perusahaan dalam menarik pekerja. Pelemahan yen, dengan nilai tukar dolar sempat menembus 158 yen pada 2025, serta meningkatnya biaya impor juga mendorong kenaikan kebangkrutan akibat lonjakan harga untuk tahun ketiga berturut-turut.

Berdasarkan sektor industri, kebangkrutan meningkat secara tahunan pada tujuh dari sepuluh kategori, dengan penurunan hanya terjadi pada sektor grosir, keuangan dan asuransi, serta transportasi. Jumlah kebangkrutan terbesar tercatat di sektor jasa, dengan 3.478 kasus. Secara wilayah, peningkatan terjadi di tujuh dari sembilan kawasan, kecuali Hokkaido dan Chugoku.

Tokyo Shōkō Research menyatakan bahwa pada 2026 terdapat sejumlah faktor yang patut diwaspadai, termasuk kenaikan suku bunga setelah Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan, dampak kebijakan tarif era Trump, serta memburuknya hubungan dengan China. Lembaga tersebut memperkirakan jumlah kebangkrutan akan meningkat secara bertahap hingga Maret tahun ini, yang menandai akhir tahun fiskal 2025.

Sc : nippon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

71,7% Warga Jepang Khawatir Kondisi Keuangan Negara Memburuk Usai Pajak Makanan Dipangkas

24 August 2026 - 10:10 WIB

Warga Asing di Kumamoto Kesulitan Dapat Informasi Gempa, Hanya 3 dari 19 Kota Punya Layanan Khusus

24 August 2026 - 07:07 WIB

Menyamar Jadi Orang Asing, Pria Jepang Mencoba Merampok Sebuah Konbini di Gunma Berhasil Ditangkap Polisi

22 August 2026 - 13:28 WIB

Kereta Ekspres Tabrak Pekerja di Jalur Rel Tochigi, 4 Orang Dilaporkan Tewas

21 August 2026 - 12:10 WIB

Pesawat Malaysia Airlines Keluarkan Asap Hitam di Narita, Lepas Landas Dibatalkan

21 August 2026 - 12:10 WIB

Trending on News