Menu ✖

Dark Mode
Anime Macross Frontier Akan Rilis Blu-ray Deluxe Edition pada 2027 Mobil Berdiplomatik Rusia Tabrakan di Depan Kementerian Luar Negeri Jepang, Empat Orang Terluka Film Anime Gundam Seed FREEDOM ZERO Tayang Januari 2027 di Jepang, Trailer Terbaru Dirilis Sambut Hari Godzilla, Stasiun Hibiya Tokyo Akan Putar Lagu Tema Godzilla Sebelum Kereta Berangkat Data Paspor Ratusan Pelanggan H.I.S. Diduga Bocor, Dua Perusahaan Jepang Umumkan Kebocoran Data Kasus WNI di Yamanashi Jepang Yang Tusuk Rekan Kerja Divonis 2 Tahun Penjara dengan Masa Percobaan

News

Kekhawatiran Diskriminasi di Sekolah Jepang: Slogan “Japanese First” Dinilai Berbahaya bagi Anak-anak

badge-check


					Kekhawatiran Diskriminasi di Sekolah Jepang: Slogan “Japanese First” Dinilai Berbahaya bagi Anak-anak Perbesar

Kelompok pendukung pendidikan mendesak para pendidik di Jepang untuk mengambil tindakan melawan diskriminasi terhadap anak-anak dengan latar belakang asing. Mereka memperingatkan potensi meluasnya retorika politik “Japanese First” yang digaungkan partai populis sayap kanan Sanseito ke lingkungan sekolah.

Partai tersebut belakangan ini semakin mendapat dukungan dari kalangan muda dan berhasil memenangkan beberapa kursi dalam pemilihan majelis tinggi bulan lalu. Hal ini mendorong sebuah kelompok nasional yang terdiri dari guru dan tenaga pendidik mengeluarkan pernyataan yang mengecam slogan tersebut sebagai bentuk diskriminasi, bahkan berpotensi menormalisasi retorika yang meminggirkan kelompok tertentu.

Slogan itu secara luas telah menuai kritik karena dianggap bernuansa xenofobia.

Dalam pertemuan yang digelar di Okayama awal bulan ini, kelompok pendidik itu menyerukan agar dewan-dewan pendidikan di seluruh Jepang mengambil langkah nyata untuk mencegah diskriminasi.

Kelompok ini memang aktif memberikan dukungan kepada murid maupun pelajar dengan kewarganegaraan atau akar asing, serta orang tua mereka.

Metanoia, sebuah organisasi nirlaba yang mengadakan kelas bahasa Jepang di wilayah seperti Kawaguchi, Prefektur Saitama—yang memiliki banyak penduduk asing—juga merilis pedoman tentang cara melindungi anak-anak dari diskriminasi.

Menurut Metanoia, jika seorang anak membuat komentar yang tidak sensitif, guru dan orang tua sebaiknya tidak hanya menjelaskan bahwa ucapan itu bersifat diskriminatif, tetapi juga mencatatnya untuk dijadikan bahan diskusi di kemudian hari.

Organisasi tersebut juga menyarankan pendidik agar berempati dan memberikan kata-kata penghiburan kepada anak yang menjadi korban perundungan terkait etnisitasnya.

Ketua kelompok, Atsushi Funachi, menyatakan kekhawatirannya bahwa anak-anak yang mengalami diskriminasi sejak sekolah dasar akan terus membawa luka psikologis itu hingga jenjang pendidikan berikutnya.

Bahkan sebelum pemilu, sudah muncul laporan kasus perundungan terhadap anak-anak dengan akar asing. Salah satu contohnya adalah seorang anak Kurdi yang diejek dengan kalimat “pulang saja ke negara asalmu.”

Komunitas Kurdi yang cukup besar di Kawaguchi memang beberapa kali menjadi sasaran ujaran kebencian.

“Kami berharap gagasan untuk hidup berdampingan dengan saling menghormati, meski berasal dari latar belakang berbeda, bisa semakin meluas,” ujar seorang perwakilan Metanoia.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Anime Macross Frontier Akan Rilis Blu-ray Deluxe Edition pada 2027

9 October 2026 - 18:10 WIB

Mobil Berdiplomatik Rusia Tabrakan di Depan Kementerian Luar Negeri Jepang, Empat Orang Terluka

9 October 2026 - 15:10 WIB

Sambut Hari Godzilla, Stasiun Hibiya Tokyo Akan Putar Lagu Tema Godzilla Sebelum Kereta Berangkat

8 October 2026 - 14:10 WIB

Data Paspor Ratusan Pelanggan H.I.S. Diduga Bocor, Dua Perusahaan Jepang Umumkan Kebocoran Data

8 October 2026 - 11:10 WIB

Kasus WNI di Yamanashi Jepang Yang Tusuk Rekan Kerja Divonis 2 Tahun Penjara dengan Masa Percobaan

8 October 2026 - 10:10 WIB

Trending on News