Seekor kucing belang tiga bernama Yontama resmi diangkat sebagai kepala stasiun kucing ketiga di Jepang pada Rabu (waktu setempat), melanjutkan tradisi unik yang telah berjalan hampir dua dekade dan terbukti mampu menghidupkan pariwisata serta menyelamatkan jalur kereta lokal dari krisis keuangan.
Pengangkatan Yontama dilakukan dalam sebuah upacara di Stasiun Kishi, yang berada di jalur Kishigawa Line milik Wakayama Electric Railway. Dalam kesempatan yang sama, perusahaan kereta juga memperkenalkan Rokutama, kucing baru yang akan menjalani peran sebagai asisten kepala stasiun.
Yontama menggantikan Nitama, kepala stasiun sebelumnya yang juga merupakan kucing belang tiga. Nitama meninggal dunia pada November tahun lalu dan kini diberi gelar kepala stasiun kehormatan.
Tradisi Kucing Kepala Stasiun Sejak 2007
Jalur Kishigawa mulai dikenal secara nasional sejak tahun 2007, ketika mereka mengangkat seekor kucing bernama Tama sebagai kepala stasiun pertama. Keputusan tak biasa itu sukses besar, menarik wisatawan dari dalam dan luar Jepang, sekaligus membantu jalur kereta tersebut bertahan dari kesulitan finansial.
Kesuksesan Tama kemudian memicu tren serupa di berbagai daerah di Jepang, di mana kereta lokal yang terancam bangkrut mengangkat hewan seperti kucing, anjing, hingga kelinci sebagai kepala stasiun simbolis.
Dalam upacara yang digelar di depan gedung Stasiun Kishi, Kota Kinokawa, Presiden Wakayama Electric Railway Mitsunobu Kojima secara simbolis mengalungkan medali jabatan kepala stasiun ke leher Yontama, yang disambut tepuk tangan meriah para pengunjung.
Salah satu penggemar setia, Chisako Asano (52), ibu rumah tangga asal Fujiidera, Prefektur Osaka, mengaku telah mengikuti kisah kucing-kucing kepala stasiun sejak era Tama.
“Saya berharap para kucing kepala stasiun ini terus menjaga Jalur Kishigawa,” ujarnya.
Usai upacara, Kojima mengatakan bahwa ia berharap Yontama dapat menjadi simbol harapan baru.
“Saya berharap Yontama bisa memimpin sebagai kepala stasiun di saat jalur kereta lokal sedang berada di titik balik perubahan besar,” katanya kepada wartawan.
Di tengah menurunnya jumlah penumpang dan tantangan finansial yang dihadapi banyak kereta lokal di Jepang, kisah Yontama kembali menunjukkan bahwa sentuhan budaya, kreativitas, dan kehangatan bisa menjadi kunci bertahannya transportasi daerah.
Sc : JT







