Menu

Dark Mode
Manga One-Shot Perdana Kreator Gintama “Dandelion” Dapat Adaptasi Anime, Tayang April di Netflix PM Jepang Sanae Takaichi Tegaskan Tolak Perubahan Aturan Suksesi Kekaisaran Jepang Batasi Power Bank di Pesawat Maksimal Dua per Penumpang, Dilarang Digunakan Saat Terbang Kagoshima Subsidi Penuh Tiket Shinkansen untuk Turis Asing, Tuai Kritik Publik Film Anime Perdana Chiikawa Tayang 24 Juli, Angkat Arc “Pulau Putri Duyung” Drama Live-Action Solitary Gourmet Umumkan Season 11, Tayang April 2026

Culture

Momijigari: Tradisi Melihat Daun Merah di Musim Gugur

badge-check


					Momijigari: Tradisi Melihat Daun Merah di Musim Gugur Perbesar

Jika musim semi di Jepang identik dengan hanami atau menikmati bunga sakura, maka musim gugur punya tradisi yang tak kalah populer: momijigari (紅葉狩り). Secara harfiah, momiji berarti daun maple merah, dan gari berarti berburu atau mencari. Jadi, momijigari bisa diartikan sebagai “berburu daun merah”—bukan untuk dipetik, tetapi untuk dinikmati keindahannya.


Asal Usul Momijigari

Tradisi ini sudah ada sejak zaman Heian (794–1185), ketika para bangsawan pergi ke pegunungan untuk menikmati pemandangan dedaunan yang berubah warna. Awalnya hanya kalangan aristokrat yang melakukannya, namun seiring waktu, momijigari menyebar ke seluruh lapisan masyarakat dan menjadi budaya populer hingga hari ini.


Keindahan Musim Gugur di Jepang

Di Jepang, pohon maple (momiji) dan ginkgo (icho) menjadi ikon musim gugur. Daunnya berubah warna menjadi merah menyala, kuning keemasan, atau oranye yang indah. Pemandangan ini biasanya dapat dinikmati mulai Oktober hingga awal Desember, tergantung wilayah.

Tempat terkenal untuk momijigari antara lain:

  • Kyoto dengan kuil-kuil kuno yang dikelilingi pepohonan merah.

  • Nikko di Prefektur Tochigi yang punya jalur pegunungan spektakuler.

  • Hakone yang memadukan pemandangan dan onsen (pemandian air panas).

  • Hokkaido yang lebih awal mengalami musim gugur, biasanya sejak September.


Momijigari di Kehidupan Modern

Saat ini, momijigari bukan hanya tradisi, tapi juga bagian dari gaya hidup. Orang Jepang rela bepergian jauh untuk mencari spot terbaik melihat daun merah. Banyak juga festival musim gugur yang digelar di berbagai daerah, lengkap dengan iluminasi malam hari yang membuat momiji tampak semakin menawan.

Selain itu, makanan musiman seperti kastanye panggang, ubi manis, atau wagashi (kue tradisional) bertema momiji juga semakin memeriahkan suasana.


Filosofi di Balik Momijigari

Momijigari bukan sekadar melihat pemandangan indah. Bagi masyarakat Jepang, perubahan warna daun adalah pengingat akan siklus kehidupan: bahwa segala sesuatu punya masanya, dan keindahan bisa ditemukan dalam perubahan maupun kefanaan (mono no aware).


Momijigari adalah cara orang Jepang merayakan keindahan musim gugur. Dari pegunungan hingga taman kota, dari siang yang cerah hingga malam dengan iluminasi, tradisi ini mengajarkan untuk berhenti sejenak, menikmati keindahan alam, dan merenungkan arti perubahan dalam hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture