Menu

Dark Mode
Ungkapan Jepang Khas Chat & Internet yang Sering Dipakai Nōkanshi: Profesi Sunyi yang Menjaga Martabat di Akhir Hayat di Jepang Ancaman China Dominasi Kekhawatiran Keamanan Publik Jepang Jepang Siapkan Aturan Royalti Musik Latar untuk Kafe dan Gym Hampir 1 dari 10 Anak Muda di Jepang Kini Berasal dari Warga Asing Godzilla Minus Zero Tayang November, Rilis Jepang dan AS Berlangsung di Minggu yang Sama

Culture

Nōkanshi: Profesi Sunyi yang Menjaga Martabat di Akhir Hayat di Jepang

badge-check


					https://x.com/Mulboyne Perbesar

https://x.com/Mulboyne

Di balik ketertiban dan kesopanan masyarakat Jepang, ada satu profesi yang jarang dibicarakan secara terbuka, namun memegang peran penting dalam momen paling sensitif dalam hidup manusia: kematian. Profesi itu disebut Nōkanshi (納棺師), yakni orang yang bertugas mempersiapkan jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti mati.

Meski terdengar berat, bagi orang Jepang, pekerjaan ini bukan sekadar teknis, melainkan bagian dari ritual penghormatan terakhir.


Apa Itu Nōkanshi?

Secara harfiah, nōkan berarti “memasukkan ke dalam peti”, dan shi berarti “orang yang melakukan”. Nōkanshi adalah profesional yang bertugas:

Semua dilakukan dengan tenang, sopan, dan penuh rasa hormat, sering kali di hadapan keluarga yang berduka.


Bukan Sekadar Merias, Tapi Ritual Perpisahan

Berbeda dengan sekadar perawatan jenazah medis, pekerjaan nōkanshi sarat dengan nilai simbolik. Setiap gerakan dilakukan perlahan dan penuh makna, seolah memberi waktu bagi keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal secara emosional.

Dalam banyak kasus:

  • Wajah jenazah dirias agar tampak damai

  • Luka atau bekas penyakit ditangani secara hati-hati

  • Pakaian dipilih sesuai keinginan keluarga atau kepercayaan almarhum

Tujuannya bukan “mempercantik”, melainkan mengembalikan martabat manusia hingga akhir hayat.


Mengapa Profesi Ini Jarang Dibahas?

Dalam budaya Jepang, kematian sering dianggap sebagai topik yang tidak dibicarakan secara terbuka. Ada rasa enryo (menahan diri) dan kehati-hatian agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Selain itu:

  • Profesi yang berkaitan dengan kematian dulu sering distigma

  • Ada sejarah diskriminasi terhadap pekerjaan “tidak bersih”

  • Banyak keluarga lebih memilih proses yang tenang dan privat

Namun, seiring waktu, pandangan ini perlahan berubah.


Filosofi di Balik Pekerjaan Nōkanshi

Nōkanshi bekerja dengan prinsip bahwa jenazah tetaplah manusia, bukan benda. Oleh karena itu:

  • Tidak ada gerakan kasar

  • Tidak ada sikap tergesa-gesa

  • Tidak ada perlakuan yang merendahkan

Filosofi ini sejalan dengan pandangan Jepang tentang kehormatan, kesopanan, dan tanggung jawab sosial, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.


Mulai Dikenal Lewat Film dan Media

Profesi nōkanshi mulai dikenal publik secara luas setelah munculnya film Jepang “Okuribito” (Departures), yang menggambarkan kehidupan seorang perias jenazah dengan pendekatan yang manusiawi dan menyentuh.

Film ini mengubah cara pandang banyak orang Jepang:

  • Dari rasa takut menjadi rasa hormat

  • Dari stigma menjadi pemahaman

  • Dari diam menjadi apresiasi

Sejak saat itu, profesi nōkanshi mulai dibicarakan dengan lebih terbuka.


Antara Tradisi dan Modernitas

Di Jepang modern, nōkanshi bekerja berdampingan dengan teknologi dan prosedur medis. Namun, unsur tradisi tetap dipertahankan:

  • Gestur sopan

  • Bahasa yang halus

  • Sikap tubuh yang tenang

Hal ini menunjukkan bagaimana Jepang mampu memadukan modernitas dengan nilai-nilai tradisional, bahkan dalam urusan kematian.


Nōkanshi mungkin bukan profesi yang sering dibahas, tetapi perannya sangat penting. Mereka membantu keluarga melewati momen perpisahan dengan lebih tenang, bermartabat, dan manusiawi.

Di Jepang, menghormati orang tidak berhenti saat hidup berakhir. Melalui tangan nōkanshi, nilai kesopanan dan empati tetap hadir—bahkan hingga detik terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Melepas Sepatu Bahkan di Sekolah dan Kantor

9 January 2026 - 11:30 WIB

Oseibo vs Oshōgatsu: Bedanya Budaya Hadiah Akhir & Awal Tahun

7 January 2026 - 16:10 WIB

Hatsu-koi: Mitos Cinta Pertama di Awal Tahun Jepang

6 January 2026 - 18:30 WIB

Kagami Biraki: Ritual Memecah Mochi Tahun Baru ala Orang Jepang

3 January 2026 - 14:30 WIB

Hatsumōde: Makna Kunjungan Kuil Pertama di Awal Tahun

29 December 2025 - 15:30 WIB

Trending on Culture