Menteri Ketenagakerjaan Jepang mengatakan pada Selasa bahwa pemerintah telah memulai investigasi nasional setelah seorang pegawai pusat layanan ketenagakerjaan publik (Hello Work) di Tokyo kedapatan berpura-pura menjadi pencari kerja untuk diduga menaikkan target penempatan kerja kantor tersebut.
Pegawai Hello Work di distrik Sumida, Tokyo, itu mengajukan lamaran ke sembilan perusahaan menggunakan identitas palsu dan berhasil mendapatkan empat tawaran kerja. Setiap dari 544 kantor Hello Work memang memiliki target penempatan kerja masing-masing.
Kenichiro Ueno, Menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan, menyatakan dalam konferensi pers bahwa penyelidikan nasional ini akan memeriksa apakah ada pelanggaran serupa di seluruh kantor Hello Work. Ia menekankan perlunya disiplin ketat serta pengelolaan target penempatan yang benar, dan memastikan tindakan tegas akan diambil setelah investigasi selesai.
Pegawai tersebut diketahui telah mendaftarkan dua identitas palsu sebagai pencari kerja dan memperkenalkan “pelamar fiktif” itu ke perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan.
Menurut kementerian, pegawai itu kemudian menolak empat tawaran kerja tersebut. Kasus ini terungkap pada musim gugur ketika pegawai itu menggunakan nama aslinya dalam sebuah wawancara, sehingga perusahaan melihat adanya perbedaan dengan dokumen lamaran.
Kementerian telah meminta maaf kepada sembilan perusahaan yang terlibat. Mereka menjelaskan bahwa penempatan kerja yang ditolak sebenarnya tidak dihitung dalam statistik resmi, namun apabila kantor Hello Work tidak mengetahui adanya pembatalan, angka tersebut bisa saja tetap tercatat. Hingga Oktober, empat penempatan fiktif terkait pegawai itu masih tercantum di statistik.
Kantor-kantor Hello Work di bawah Biro Tenaga Kerja Tokyo mendapat arahan khusus apabila pencapaian mereka turun di bawah 95 persen dari target bulanan.
Sc : JT







