Menu

Dark Mode
Game Baru Sword Art Online: Echoes of Aincrad Umumkan Jadwal Rilis dan Detail Edisi Manga Kemono Jihen Akan Diadaptasi Jadi Pertunjukan Teater, Angkat Arc Tokyo Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

News

Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Nasib Pembubaran Gereja Unifikasi pada 4 Maret

badge-check


					Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Nasib Pembubaran Gereja Unifikasi pada 4 Maret Perbesar

Pengadilan Tinggi Tokyo akan mengeluarkan putusan pada 4 Maret terkait permintaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang untuk membubarkan Gereja Unifikasi, menurut sumber yang mengetahui perkara tersebut.

Jika pengadilan tinggi menguatkan putusan Pengadilan Distrik Tokyo pada Maret 2025 yang memerintahkan pembubaran kelompok keagamaan tersebut, maka proses likuidasi aset akan segera dimulai melalui likuidator yang ditunjuk pengadilan. Proses ini dapat berjalan tanpa menunggu putusan Mahkamah Agung, meskipun pihak gereja mengajukan keberatan lanjutan.

Gereja Unifikasi, yang kini secara resmi bernama Family Federation for World Peace and Unification, langsung mengajukan banding atas putusan pengadilan distrik. Pihak gereja menyebut putusan tersebut keliru dan menegaskan bahwa proses mediasi dengan mantan pengikut yang menuntut pengembalian dana donasi masih terus berlangsung.

Dalam putusannya, Pengadilan Distrik Tokyo menyatakan bahwa sejak 1980-an, anggota gereja telah melakukan praktik ilegal dalam penggalangan donasi di seluruh Jepang, menyebabkan kerugian dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengadilan juga menyoroti bahwa meskipun gereja mengeluarkan deklarasi kepatuhan pada 2009 untuk mencegah praktik tersebut, kerugian tetap berlanjut.

Pengadilan menyimpulkan bahwa praktik penggalangan dana tersebut bersifat jahat dan serius, sehingga pembubaran dinilai perlu dan tidak dapat dihindari.

Karena permohonan pembubaran bukan gugatan perdata biasa melainkan kasus nonkontensius, seluruh proses persidangan dilakukan secara tertutup sesuai ketentuan hukum. Sidang di Pengadilan Tinggi Tokyo sendiri telah berakhir pada November 2025.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kasus Ganja di Jepang Capai Rekor Tertinggi 2025, Mayoritas Pelaku Anak Muda

3 April 2026 - 12:10 WIB

Ekspansi Bandara Narita Terancam Molor, Pemerintah Pertimbangkan Pengadaan Lahan Secara Paksa

3 April 2026 - 10:10 WIB

Harga Tiket Pesawat ANA, JAL Rute Internasional dari Jepang Diperkirakan Naik hingga 100% Akibat Lonjakan Harga BBM

3 April 2026 - 07:10 WIB

Jepang Uji Daur Ulang Popok Bekas Jadi Produk Baru, Solusi untuk Limbah dan Populasi Menua

2 April 2026 - 18:10 WIB

Warga Asing Makin Banyak, Kitakyushu Tunjuk Koordinator Multikultural untuk Perkuat Interaksi Warga Lokal dengan Asing

2 April 2026 - 13:10 WIB

Trending on News