Menu

Dark Mode
Pengajuan Permanent Residence Jepang Resmi Diperketat, Kini Wajib Penuhi Syarat Gaji, Bahasa Jepang, dan Pensiun Game Attack on Titan 3 Resmi Rilis 10 Desember 2026, Hadirkan Pertarungan Melawan Semua Nine Titans Patlabor Hadir Lagi! Manga One-shot Baru Resmi Terbit Bulan Agustus Gelombang Panas di Jepang, Tiga Singa Kebun Binatang Tokyo Mati Diduga Akibat Heatstroke Mulai September, Bandara Haneda Terapkan Aturan Baru: Bagasi Harus Check-in 30 Menit Sebelum Terbang AS Diduga Ikut Bantu Jepang Menahan Pelemahan Yen, Kurs Langsung Menguat Tajam

News

Perempuan Jepang Pilih Menjadi Ibu Sendiri Lewat Donor Sperma di Luar Negeri

badge-check


					Perempuan Jepang Pilih Menjadi Ibu Sendiri Lewat Donor Sperma di Luar Negeri Perbesar

Di antara semakin banyaknya kaum “single selektif” di Jepang — yaitu orang yang memilih untuk tidak menikah — terdapat sejumlah perempuan yang memutuskan menjadi ibu dengan menggunakan donor sperma.

Walau sangat mendambakan anak, perempuan-perempuan ini sering enggan memasuki hubungan asmara karena berbagai kondisi pribadi yang kompleks, seperti pengalaman kekerasan atau trauma.

Karena Jepang belum memiliki kerangka hukum yang jelas untuk donor sperma pihak ketiga, beberapa dari mereka terpaksa menggunakan bank sperma di luar negeri sebagai satu–satunya jalan menuju keibuan.

Seorang wanita berusia 43 tahun di Tokyo bercerita bahwa donor sperma merupakan “secercah harapan.” Setelah menggunakan sperm bank luar negeri dan menjalani fertilisasi in vitro (IVF), ia melahirkan tahun lalu. Ia pernah menikah di usia 20-an, tetapi bercerai setelah mengalami pelecehan emosional dari suaminya.

Meski sempat mempertimbangkan menikah lagi, ketidaknyamanan terhadap pria membuatnya sulit membangun kembali hubungan. Ia pun membekukan sel telur di usia 30-an untuk menjaga opsi masa depan. Namun, kecemasan akan masa depan terus tumbuh seiring bertambah usia.

Titik balik terjadi setelah ia memasuki usia 40 tahun. Ia membaca blog seorang wanita lain yang juga menggunakan sperm bank luar negeri untuk memiliki anak — dan berpikir, “Aku bisa punya anak tanpa pasangan.”

Walau awalnya ragu, ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan prosesnya. Kini, sebagai seorang ibu tunggal, ia mengimbangi pengasuhan anak dengan pekerjaan penuh waktu. “Aku menjadi tulang punggung keluarga. Aku tidak bisa izin cuti,” ujarnya, menjelaskan bahwa ia kembali bekerja hanya dua bulan setelah melahirkan.

Ia juga terus menjalin komunikasi dengan ibu tunggal lain yang membuat pilihan serupa. Mereka kadang kali saling membantu dalam hal pengasuhan anak dan berbagi pengalaman.

Seorang wanita berusia 36 tahun di Tokyo juga bersiap menjalani kehamilan dengan donor sperma dari luar negeri. Setelah mengalami pelecehan seksual dari ayahnya, ia merasa sangat sulit membangun hubungan dengan pria. Baginya, donor sperma adalah cara untuk menjadi ibu sambil menjaga batas emosionalnya. “Ini bukan keputusan ringan,” tegasnya.

Di Jepang, prosedur inseminasi buatan atau IVF dengan sperma/sel telur donor termasuk dalam kategori “teknologi reproduksi bantuan tertentu.” Meskipun teknologi medis telah berkembang, sistem hukum di Jepang belum mengikuti kemajuan tersebut.

Pedoman dari Asosiasi Obstetri dan Ginekologi Jepang menetapkan bahwa inseminasi dengan sperma donor hanya diizinkan bagi pasangan yang secara hukum menikah. IVF juga dibatasi pada pasangan menikah atau pasangan hidup bersama — sedangkan individu lajang tidak memenuhi syarat.

Meski demikian, sejumlah klinik di Jepang diam-diam menerima perempuan lajang yang menggunakan bank sperma dari luar negeri.

Menurut konselor infertilitas Hiromi Ito, “Beberapa klinik berpendapat bahwa akses layanan medis tidak seharusnya bersifat selektif, dan bahwa kebahagiaan anak tidak bisa diukur dari struktur keluarga.”

Namun, teknologi reproduksi bantuan membawa tantangan, seperti hubungan rumit antara orang tua dan anak, risiko kesehatan termasuk penyakit menular, serta isu “hak anak untuk mengetahui asal-usulnya” karena donor sering anonim.

“Saya tidak tahu apakah ini jawaban yang benar,” ujar salah satu ibu, “tapi saya ingin berbagi sebanyak mungkin informasi donor kepada anak saya. Saya juga berharap bisa membangun komunitas di mana anak-anak dari latar belakang serupa dapat saling mengenal dan tumbuh dengan identitas yang kuat.”

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pengajuan Permanent Residence Jepang Resmi Diperketat, Kini Wajib Penuhi Syarat Gaji, Bahasa Jepang, dan Pensiun

4 August 2026 - 20:24 WIB

Patlabor Hadir Lagi! Manga One-shot Baru Resmi Terbit Bulan Agustus

4 August 2026 - 13:10 WIB

Gelombang Panas di Jepang, Tiga Singa Kebun Binatang Tokyo Mati Diduga Akibat Heatstroke

4 August 2026 - 12:10 WIB

Mulai September, Bandara Haneda Terapkan Aturan Baru: Bagasi Harus Check-in 30 Menit Sebelum Terbang

4 August 2026 - 10:10 WIB

AS Diduga Ikut Bantu Jepang Menahan Pelemahan Yen, Kurs Langsung Menguat Tajam

3 August 2026 - 17:10 WIB

Trending on News