Perusahaan modal ventura asal Singapura, Insignia Ventures Partners, berencana membangun akademi startup di Prefektur Iwate, Jepang, bekerja sama dengan pemerintah setempat. Proyek ini bertujuan mengembangkan talenta startup dari Jepang dan Asia Tenggara sekaligus menarik lebih banyak investasi ke wilayah Tohoku.
Yinglan Tan, pendiri sekaligus mitra pengelola Insignia Ventures Partners, dijadwalkan menandatangani kesepakatan proyek bersama Gubernur Iwate Takuya Tasso dalam rangkaian Iwate International Convention pada 29–30 Oktober di Morioka. Namun, tanggal pembukaan akademi tersebut belum ditentukan.
Akademi ini akan menjadi kampus pertama Insignia Ventures Academy di luar Singapura. Programnya dirancang untuk melatih generasi muda dari Jepang dan Asia Tenggara agar mampu menjembatani kedua kawasan, dengan memadukan pemahaman tentang budaya bisnis Jepang dan keberagaman pasar Asia Tenggara.
Didirikan pada 2017, Insignia Ventures Partners telah berinvestasi di lebih dari 90 perusahaan di berbagai pasar, termasuk Indonesia, Vietnam, Singapura, dan Taiwan. Perusahaan ini mengelola aset senilai 1 miliar dolar Singapura atau sekitar US$780 juta.
Menurut perusahaan tersebut, akademi di Singapura telah meluluskan lebih dari 250 peserta melalui program inti selama 12 minggu yang membahas dasar-dasar investasi modal ventura. Sejumlah lulusannya kemudian bergabung dengan perusahaan dalam portofolio investasi atau mendirikan bisnis sendiri.
Pemerintah Prefektur Iwate berencana menjual lahan bekas SMA Towa seluas 41.900 meter persegi di Hanamaki kepada perusahaan Singapura tersebut. Sekolah itu telah ditutup sejak 2010. Pemerintah setempat juga sedang mempertimbangkan pemberian subsidi renovasi untuk mendukung proyek ini.
Hanamaki dipilih karena memiliki akses transportasi yang mendukung. Kota ini memiliki Bandara Iwate Hanamaki, Stasiun Shin-Hanamaki yang dilalui jalur Tohoku Shinkansen, serta akses ke Jalan Tol Tohoku.
Pemerintah Iwate berharap kehadiran akademi ini dapat mendorong revitalisasi ekonomi daerah sekaligus membantu menghadapi dampak penuaan penduduk.
Tomokazu Sugawara dari Divisi Dukungan Manajemen Pemerintah Prefektur Iwate mengatakan, fasilitas penginapan dan transportasi juga perlu dikembangkan agar pengajar dan peserta dari Singapura maupun negara lain dapat datang dan tinggal selama mengikuti program.
Pemerintah setempat berharap akademi ini nantinya dapat menarik talenta internasional, memperluas hubungan bisnis dengan Asia Tenggara, dan meningkatkan investasi di wilayah Tohoku.
Sc : KN








