Menu

Dark Mode
Film Anime Perdana Chiikawa Tayang 24 Juli, Angkat Arc “Pulau Putri Duyung” Drama Live-Action Solitary Gourmet Umumkan Season 11, Tayang April 2026 Trailer Eksklusif One Piece Live-Action Season 2 Dirilis, Tayang 10 Maret di Netflix Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899 Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Mahal untuk Turis, Bisa Dua Kali Lipat dari Warga Lokal Komposer Game Jepang Shigeru Ikeda Meninggal Dunia di Usia 57 Tahun

News

PM Sanae Takaichi Tegaskan Ucapannya Soal Taiwan Tak Bertentangan dengan Kebijakan Pemerintah Sebelumnya

badge-check


					PM Sanae Takaichi Tegaskan Ucapannya Soal Taiwan Tak Bertentangan dengan Kebijakan Pemerintah Sebelumnya Perbesar

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada hari Senin membela pernyataannya di parlemen terkait kemungkinan keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang jika terjadi darurat di Taiwan. Ia menegaskan bahwa ucapannya tidak bertentangan dengan sikap pemerintahan sebelumnya.

Sejumlah pengamat menilai pernyataan Takaichi pada Jumat lalu—bahwa serangan militer China terhadap Taiwan bisa memungkinkan Jepang menggunakan kekuatan militer berdasarkan Konstitusi pasifisnya—sebagai penyimpangan, karena pejabat pemerintah biasanya tidak berbicara terlalu spesifik tentang isu sensitif bagi Beijing tersebut.

Dalam sidang komite parlemen hari Senin, Takaichi—yang baru beberapa minggu menjabat—menolak menarik kembali ucapannya.
Ia mengatakan bahwa pernyataannya dibuat dengan asumsi “skenario terburuk.”

“Itu sejalan dengan pandangan pemerintah yang konvensional,” ujarnya.

Namun, ia menambahkan bahwa tidak akan lagi memberikan pendapat berdasarkan situasi tertentu, serta menegaskan tidak bermaksud menjadikan ucapannya sebagai pandangan resmi pemerintah.

Undang-undang keamanan nasional Jepang yang disahkan pada tahun 2015 memungkinkan negara itu, dalam kondisi tertentu seperti “situasi yang mengancam kelangsungan hidup,” menggunakan hak bela diri kolektif, yakni membela sekutu meski Jepang tidak diserang langsung.

Dalam pernyataannya hari Jumat, Takaichi mengatakan bahwa situasi darurat di Taiwan yang melibatkan “penggunaan kapal perang” dan “kekuatan militer” bisa dianggap sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang.”

Pemerintah China memprotes pernyataan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian pada konferensi pers hari Senin menyebutnya sebagai

“campur tangan serius terhadap urusan dalam negeri China,”
dan mengkritik pernyataan itu karena dianggap mengisyaratkan “intervensi militer.”

China menganggap Taiwan—pulau demokratis yang memerintah sendiri—sebagai provinsi yang memisahkan diri dan harus dipersatukan kembali, dengan kekuatan jika perlu. Beijing juga kerap menolak apa yang disebutnya campur tangan asing dalam urusan Taiwan.

Taiwan dipandang sebagai titik panas militer potensial yang dapat menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik dengan China — suatu skenario yang akan menimbulkan tantangan keamanan serius bagi Jepang mengingat letak geografis kepulauan barat daya Jepang yang berdekatan dengan Taiwan.

Akhir pekan lalu di Jepang, pemimpin oposisi utama Yoshihiko Noda, mantan perdana menteri, mengatakan dirinya

“sangat terkejut”
dengan pernyataan Takaichi, dan menambahkan bahwa perdana menteri sebelumnya selalu menjaga agar komentar tentang isu ini tetap terbatas.

Anggota parlemen oposisi lain, Hiroshi Ogushi dari Partai Demokrat Konstitusional Jepang, pada hari Senin meminta Takaichi untuk menarik atau memperbaiki pernyataannya, dengan alasan adanya

“kekhawatiran tentang bagaimana negara lain akan bereaksi.”

Takaichi, yang menjabat pada 21 Oktober, dikenal sebagai politikus pro-Taiwan dan sering dianggap sebagai penerus aliran pemikiran mendiang Shinzo Abe, mantan perdana menteri yang dikenal memiliki pandangan nasionalis dan hawkish dalam hal keamanan nasional.

Abe sendiri pernah mengatakan pada tahun 2021 setelah turun dari jabatan:

“Darurat di Taiwan adalah darurat bagi Jepang. Dengan kata lain, itu juga darurat bagi aliansi Jepang-AS.
Orang-orang di Beijing, terutama Presiden Xi Jinping, tidak boleh salah menilai hal itu.”

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899

27 February 2026 - 12:10 WIB

Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Mahal untuk Turis, Bisa Dua Kali Lipat dari Warga Lokal

27 February 2026 - 10:10 WIB

WN Jepang Ditahan di Teheran Sejak Januari, Pemerintah Jepang Desak Iran Segera Bebaskan

26 February 2026 - 15:10 WIB

Pemerintah Daerah Ibaraki Siap Kasih Imbalan Tunai Bagi yang Melapor Pekerja Asing Ilegal

26 February 2026 - 12:10 WIB

Jepang Murka: China Masukkan 20 Perusahaan Pertahanan Jepang ke Daftar Larangan Ekspor

26 February 2026 - 11:10 WIB

Trending on News