Pemerintah Jepang mengubah kebijakan penanganan beruang setelah serangan terhadap manusia mencapai rekor tertinggi. Pada tahun fiskal 2025, tercatat 238 orang diserang beruang, dengan 13 di antaranya meninggal dunia.
Selama ini Jepang lebih berfokus melindungi populasi beruang. Namun kini pemerintah mulai menargetkan pengurangan jumlah beruang, terutama di wilayah Tohoku yang menjadi daerah dengan kasus terbanyak.
Pemerintah menargetkan populasi beruang di Tohoku turun dari sekitar 19.000 ekor menjadi 12.000 ekor pada 2030. Selain itu, survei nasional menggunakan ratusan kamera juga mulai dilakukan untuk menghitung populasi beruang secara lebih akurat.
Para ahli menilai meningkatnya serangan bukan semata-mata karena jumlah beruang bertambah, tetapi juga akibat menurunnya populasi di pedesaan Jepang. Banyak lahan pertanian terbengkalai dan hutan semakin meluas sehingga habitat beruang kini semakin dekat dengan permukiman manusia.
Selain itu, beberapa peneliti juga mengungkap adanya perubahan perilaku beruang. Jika sebelumnya beruang biasanya menyerang untuk membela diri, kini ditemukan beberapa kasus di mana beruang langsung memangsa korban setelah menyerang, sehingga pola perilaku tersebut sedang diteliti lebih lanjut.
Untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, pemerintah akan membagi wilayah menjadi beberapa zona, termasuk kawasan permukiman, zona penyangga, hingga habitat inti beruang. Pemerintah daerah juga diminta menghilangkan faktor yang menarik beruang datang ke permukiman, seperti lahan kosong yang tidak dikelola.
Pemerintah menargetkan seluruh daerah memiliki sistem pengelolaan habitat beruang yang baru paling lambat pada 2030, sebagai upaya menekan jumlah serangan di masa depan.
Sc : JT








