Menu

Dark Mode
Ungkapan Jepang Khas Chat & Internet yang Sering Dipakai Nōkanshi: Profesi Sunyi yang Menjaga Martabat di Akhir Hayat di Jepang Ancaman China Dominasi Kekhawatiran Keamanan Publik Jepang Jepang Siapkan Aturan Royalti Musik Latar untuk Kafe dan Gym Hampir 1 dari 10 Anak Muda di Jepang Kini Berasal dari Warga Asing Godzilla Minus Zero Tayang November, Rilis Jepang dan AS Berlangsung di Minggu yang Sama

News

Tak Mampu Resign Sendiri, Pekerja Jepang Ramai Gunakan Agen Pengunduran Diri

badge-check


					Tak Mampu Resign Sendiri, Pekerja Jepang Ramai Gunakan Agen Pengunduran Diri Perbesar

Semakin banyak pekerja di Jepang yang menggunakan jasa agen pengunduran diri, yaitu layanan yang menangani proses penyampaian niat resign kepada pihak perusahaan atas nama karyawan.

Laporan yang dirilis pada Oktober 2024 oleh Mynavi, perusahaan yang mengelola platform pencarian kerja dan pindah karier, menunjukkan bahwa dari 800 responden (dengan jawaban ganda diperbolehkan), alasan paling umum menggunakan agen pengunduran diri adalah karena “perusahaan mencoba atau kemungkinan besar akan mencoba mencegah saya resign” dengan persentase 40,7 persen. Alasan berikutnya adalah “saya berada di lingkungan yang tidak memungkinkan untuk mengatakan ingin berhenti” sebesar 32,4 persen. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis laporan tersebut, alasan kedua ini paling sering ditemui di lapangan.

Salah satu contohnya adalah seorang pria berusia akhir 20-an yang berpindah pekerjaan dan menjadi insinyur tanpa pengalaman sebelumnya. Ia mengatakan bahwa jika terus bekerja, ia justru akan merepotkan rekan-rekannya, sehingga memutuskan menggunakan jasa agen pengunduran diri. Ia bekerja sebagai bagian dari sebuah tim di perusahaan klien dengan lingkungan kerja yang sebenarnya positif. Namun meskipun ia belajar di waktu luang untuk meningkatkan keterampilannya, ia kesulitan menunjukkan hasil kerja dan mulai merasa menjadi beban bagi tim. Setelah satu tahun, ia mengalami gangguan tidur, jatuh ke dalam depresi, dan semakin sering tidak masuk kerja. Dalam kondisi mental yang terganggu, ia tidak mampu mengambil keputusan secara normal dan tidak sanggup mengatakan bahwa dirinya sudah mencapai batas, meskipun tetap rutin bertemu dengan atasannya.

Dalam kasus ini, pihak perusahaan tidak melakukan pelanggaran apa pun. Namun bagi karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh hingga mengalami tekanan mental, menyampaikan keinginan untuk resign kepada atasan bisa menjadi beban psikologis yang sangat berat.

Di sisi lain, ada pula kasus di mana perusahaan jelas memiliki tanggung jawab. Contoh yang umum adalah kasus perundungan di tempat kerja. Seorang perempuan yang masuk ke sebuah perusahaan sebagai lulusan baru dan berhenti hanya setelah tiga bulan bekerja mengaku menggunakan jasa agen pengunduran diri. Atasannya kerap menyebutnya “terlalu gemuk” di depan rekan kerja dan sering memarahinya tanpa alasan jelas. Hal ini membuatnya tidak sanggup lagi datang ke kantor dan akhirnya mencari bantuan agen.

Karena bekerja di perusahaan besar, besar kemungkinan tersedia jalur konsultasi internal. Namun tidak realistis untuk mengharapkan karyawan baru yang merasa terpojok dapat menilai situasi dengan tenang dan memanfaatkan jalur tersebut. Bahkan jika ia mengajukan keluhan, tidak ada jaminan masalah akan terselesaikan. Menghadapi atasan secara langsung pun berisiko, sementara mengutarakan niat untuk resign terasa sangat sulit.

Kasus lain melibatkan seorang perempuan berusia 40-an yang baru saja pindah ke perusahaan menengah. Ia didekati oleh atasan barunya yang menyatakan ketertarikan romantis. Setelah menolak, ia justru menjadi sasaran serangan verbal yang terus-menerus. Meski ia adalah profesional berpengalaman dengan rekam jejak kuat dan sudah pernah berpindah kerja sebelumnya, ia tetap merasa tidak mampu menghadapi pelaku secara langsung.

Pada akhirnya, ia merasa harus kembali pindah pekerjaan, tetapi pihak perusahaan tidak kooperatif dalam proses pengunduran diri. Ia pun berkata bahwa dirinya tidak pernah menyangka akan menggunakan jasa agen pengunduran diri.

Seperti terlihat dalam kasus perempuan berusia 40-an tersebut, pengguna agen pengunduran diri tidak hanya berasal dari kalangan pekerja muda usia 20-an. Survei Tokyo Shoko Research yang dilakukan pada 2–9 Juni menunjukkan bahwa 53,7 persen pengguna berada di usia 20-an, sementara 35 persen lainnya berasal dari kelompok usia 30-an dan 40-an. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan jasa agen pengunduran diri kini juga meningkat di kalangan pekerja menengah karier, bukan hanya generasi muda.

Sc ; nippon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Ancaman China Dominasi Kekhawatiran Keamanan Publik Jepang

10 January 2026 - 18:10 WIB

Jepang Siapkan Aturan Royalti Musik Latar untuk Kafe dan Gym

10 January 2026 - 18:10 WIB

Hampir 1 dari 10 Anak Muda di Jepang Kini Berasal dari Warga Asing

10 January 2026 - 18:10 WIB

Jepang Waspada Salju Lebat Selama Libur Panjang, Pemerintah Imbau Masyarakat Siaga

10 January 2026 - 10:10 WIB

Industri Antariksa Jepang Dinilai Tertinggal, Pakar Soroti Lemahnya Transportasi Kargo

9 January 2026 - 16:30 WIB

Trending on News