Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada hari Senin kembali mengkritik Jepang, Korea Selatan, Australia, dan aliansi NATO karena tidak memberikan bantuan angkatan laut untuk membuka kembali Strait of Hormuz di tengah konflik AS-Israel melawan Iran.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengeluhkan bahwa Jepang dan Korea Selatan “tidak membantu,” meskipun puluhan ribu tentara AS ditempatkan di kedua negara tersebut untuk melindungi mereka dari ancaman North Korea yang disebutnya memiliki banyak senjata nuklir.
Pernyataan tersebut muncul saat Trump kembali menyebut NATO sebagai “macan kertas,” sekaligus menyinggung bahwa dukungan militer AS kepada sekutunya seharusnya dibalas dengan kontribusi serupa.
Di sisi lain, Trump memuji beberapa negara Timur Tengah seperti Kuwait, Qatar, dan Saudi Arabia sebagai mitra yang “baik” bagi Amerika Serikat sejak dimulainya perang pada 28 Februari.
Trump juga kembali mengancam Iran, dengan menyatakan bahwa secara militer AS sudah memenangkan perang. Ia mengatakan, jika Iran tidak mencapai kesepakatan dengan Washington, infrastruktur penting negara tersebut bisa dihancurkan hanya dalam waktu empat jam.
Ia menetapkan batas waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu Washington bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dunia yang saat ini sebagian besar diblokir oleh Iran.
Menurut Trump, pembukaan kembali jalur tersebut adalah “prioritas yang sangat besar.”
“Kami harus mendapatkan kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah memastikan lalu lintas minyak dan lainnya berjalan bebas,” ujarnya.
Jika tidak, ia memperingatkan bahwa militer AS memiliki rencana untuk menghancurkan infrastruktur Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik.
Dalam kesempatan yang sama, Trump didampingi pejabat tinggi pertahanan dan intelijen AS menyatakan bahwa sebenarnya Amerika Serikat tidak ingin menghancurkan fasilitas penting Iran, namun tetap menegaskan kekuatan militernya.
Sebelumnya, kantor berita resmi Iran melaporkan bahwa negara tersebut menginginkan penghentian perang secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata.
Iran juga menolak proposal gencatan senjata dari AS dan mengajukan rencana tandingan yang mencakup penghentian konflik di kawasan serta jaminan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Trump menyebut proposal dari Iran sebagai “langkah penting,” namun menilai hal itu masih belum cukup.
Sc : KN








