Menu

Dark Mode
Perusahaan Layanan Pindahan di Jepang Siap Rekrut Sopir Truk dari Indonesia Macross Frontier x Top Gun: Maverick: Tamashii Nations Rilis Valkyrie Edisi Kolaborasi Jepang Bakal Wajibkan Bukti Sertifikasi Kemampuan Bahasa Jepang Setara N2 untuk Visa Gijinkoku Pasca Penusukan di Ikebukuro, Pokémon Center Jepang Batalkan Semua Event April Survey: Anak Laki-laki di Jepang Ingin Jadi Polisi, Perempuan Masih Favoritkan Toko Kue Rencana Hadiah Laporan Pekerja Asing Ilegal di Ibaraki Picu Kekhawatiran Diskriminasi

News

Kerugian Pembajakan Manga Jepang Capai 8.5 Triliun Yen Pertahun

badge-check


					Manga mura
, free site, image photo on April 5, 2018. Hodo-bu Murai reports. YOSHIAKI MIURA PHOTO Perbesar

Manga mura , free site, image photo on April 5, 2018. Hodo-bu Murai reports. YOSHIAKI MIURA PHOTO

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa kerugian akibat pembajakan online terhadap manga dan publikasi Jepang lainnya mencapai sekitar 8,5 triliun yen (sekitar Rp 1.000 triliun) per tahun secara global. Angka ini menunjukkan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh situs-situs pembajakan terhadap pemegang hak cipta.

Kelompok anti-pembajakan ABJ yang berbasis di Tokyo melakukan penelitian dengan menganalisis jumlah akses dan waktu baca dari 913 situs pembajakan selama bulan Juni. Hasilnya menunjukkan bahwa situs-situs yang menawarkan akses tidak sah ke komik, novel, dan buku foto Jepang tersebut menerima sekitar 2,8 miliar kunjungan dari pengguna di 123 negara dan wilayah, dengan total waktu baca mencapai sekitar 700 juta jam.

Kerugian untuk pemegang hak cipta diperkirakan mencapai 704,8 miliar yen, dihitung berdasarkan asumsi bahwa pengguna menyelesaikan membaca satu komik seharga 500 yen dalam waktu 30 menit. Berdasarkan data ini, ABJ memperkirakan kerugian tahunan mencapai sekitar 8,5 triliun yen.

Menurut penelitian tersebut, Indonesia mencatat pangsa terbesar dalam total waktu baca manga ilegal sebesar 12,8%, diikuti Jepang sendiri sebesar 12,4% dan Amerika Serikat sebesar 11,2%. Bahasa Inggris menjadi bahasa yang paling umum digunakan di situs pembajakan dengan persentase 51%, disusul bahasa Jepang 16%, serta bahasa China dan Vietnam masing-masing 6%.

Atsushi Ito, anggota senior ABJ, menyatakan bahwa studi ini menunjukkan kerusakan yang lebih parah dari perkiraan sebelumnya. “Berdasarkan data ini, kami bertujuan untuk menerapkan langkah-langkah penanggulangan yang lebih efektif,” ujarnya. Masalah situs pembajakan telah lama menjadi tantangan besar bagi penerbit, artis, dan penulis Jepang karena terus muncul situs-situs baru yang sering mengubah domain untuk menghindari deteksi.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Perusahaan Layanan Pindahan di Jepang Siap Rekrut Sopir Truk dari Indonesia

7 April 2026 - 10:10 WIB

Jepang Bakal Wajibkan Bukti Sertifikasi Kemampuan Bahasa Jepang Setara N2 untuk Visa Gijinkoku

6 April 2026 - 17:30 WIB

Pasca Penusukan di Ikebukuro, Pokémon Center Jepang Batalkan Semua Event April

6 April 2026 - 16:10 WIB

Survey: Anak Laki-laki di Jepang Ingin Jadi Polisi, Perempuan Masih Favoritkan Toko Kue

6 April 2026 - 15:10 WIB

Rencana Hadiah Laporan Pekerja Asing Ilegal di Ibaraki Picu Kekhawatiran Diskriminasi

6 April 2026 - 10:10 WIB

Trending on News