Honda Motor Co. terpaksa meninjau ulang strategi kendaraan listrik (EV) mereka akibat perubahan kebijakan lingkungan di Amerika Serikat, yang berdampak langsung pada kerja sama dengan Sony Group Corp..
Kedua perusahaan mengumumkan pada 25 Maret bahwa mereka membatalkan pengembangan serta peluncuran dua model EV yang sebelumnya sedang dikerjakan.
Seorang pejabat senior Honda menyebut keputusan ini sebagai langkah yang “sangat mengecewakan” dan menyakitkan.
Honda dan Sony sebelumnya mendirikan perusahaan patungan bernama Sony Honda Mobility Inc. pada 2022. Perusahaan ini mengembangkan seri EV generasi baru bernama Afeela, yang menggabungkan teknologi otomotif Honda dengan keahlian hiburan Sony.
Model pertama, sedan Afeela 1 dengan teknologi mengemudi otonom, awalnya dijadwalkan mulai dikirim ke pasar Amerika Serikat pada akhir 2026 dan ke Jepang pada paruh pertama 2027. Namun, seluruh dana pemesanan dari pelanggan akan dikembalikan.
Sementara itu, pengembangan model kedua berupa SUV juga resmi dihentikan.
Honda menyatakan akan mengevaluasi kembali kelanjutan kerja sama dengan Sony, terutama dalam menghadapi masa depan adopsi kendaraan listrik secara luas.
Perubahan ini terjadi setelah Honda pada 12 Maret mengumumkan peninjauan strategi EV mereka, salah satunya karena melambatnya pasar mobil listrik di AS. Bahkan, Honda juga membatalkan tiga model EV baru yang sebelumnya direncanakan untuk pasar Amerika Utara.
Di AS, insentif untuk kendaraan listrik mulai dikurangi di bawah pemerintahan Donald Trump, termasuk penghentian subsidi pembelian EV sejak musim gugur lalu. Dampaknya, pasar EV melambat, sementara mobil hybrid justru menunjukkan performa yang kuat.
Akibat perubahan strategi ini, Honda memperkirakan akan mengalami kerugian besar, termasuk dari pembatalan proyek dan penurunan nilai aset fasilitas produksi.
Perusahaan memproyeksikan kerugian bersih hingga 690 miliar yen (sekitar Rp4,5 triliun) untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret.
Sc : asahi










