Menu

Dark Mode
Pria di Jepang Dihukum Bayar Rp500 Juta karena Bohongi Pacar soal Status Pernikahan hingga Hamil dan Melahirkan Jepang Siapkan Investasi Rp25.000 Triliun hingga 2040, Industri Semikonduktor dan Anime Jadi Prioritas Anime Remake One Piece Versi Netflix Tayang Februari 2027, Musim Pertama Hanya 7 Episode Sega Rilis Sonic Frontiers: Definitive Edition untuk Nintendo Switch 2 Pemerintah Prefektur Mie Lanjutkan Warga Negara Asing Tetap Dapat Mengikuti Ujian Rekrutmen PNS Waspada! Hujan Ekstrem Ancam Kyushu, Jepang Juga Dipantau Dua Topan Sekaligus

News

Fenomena Hikikomori di Jepang Makin Mengkhawatirkan, Usia Rata-rata Terus Naik

badge-check


					Fenomena Hikikomori di Jepang Makin Mengkhawatirkan, Usia Rata-rata Terus Naik Perbesar

KHJ, sebuah organisasi nirlaba yang memberikan dukungan bagi para hikikomori (orang yang mengisolasi diri) dan keluarganya, merilis hasil survei terbaru yang menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam survei yang dilakukan pada Desember hingga Januari terhadap 280 keluarga, ditemukan bahwa usia rata-rata hikikomori terus meningkat. Pada survei pertama tahun 2014, rata-rata usia berada di angka 33,1 tahun, sementara dalam hasil terbaru naik menjadi 36,9 tahun. Selain itu, sebanyak 43,1 persen hikikomori berusia di atas 40 tahun, dan 12,7 persen bahkan sudah berusia 50 tahun ke atas.

Sebagian besar hikikomori masih bergantung secara finansial pada orang tua mereka. Kenaikan usia ini menimbulkan masalah serius, terutama karena orang tua yang sudah memasuki usia pensiun tetap harus menopang anak mereka. Situasi ini juga menjadi semakin genting karena ketika orang tua meninggal, para hikikomori berisiko kehilangan satu-satunya sumber dukungan mereka.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa usia rata-rata anggota keluarga yang merawat hikikomori mencapai 66,3 tahun, juga mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya. Bahkan ditemukan kasus hikikomori berusia 60-an yang masih dirawat oleh orang tua mereka yang sudah berusia 90-an, kondisi yang jelas tidak bisa bertahan dalam jangka panjang.

Peningkatan usia ini menunjukkan bahwa hikikomori bukan sekadar fase sementara atau akibat stres sesaat. Faktor seperti bullying di sekolah dan tekanan akademik memang sering menjadi pemicu awal, namun perhatian terhadap pemulihan dan dukungan bagi hikikomori dewasa masih tergolong minim.

Salah satu direktur KHJ, Chikako Hibana, menyatakan bahwa selama ini bantuan untuk hikikomori sering dianggap hanya ditujukan bagi anak muda, padahal kenyataannya masalah ini juga banyak dialami oleh orang dewasa.

Di Jepang, hikikomori sering dianggap sebagai masalah keluarga, dan nilai budaya membuat orang tua cenderung tetap merawat anak mereka meskipun sudah dewasa. Namun, dukungan tersebut tidak bisa berlangsung selamanya, sehingga upaya untuk membantu hikikomori agar bisa mandiri dan kembali berintegrasi dengan masyarakat menjadi semakin penting di masa depan.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pria di Jepang Dihukum Bayar Rp500 Juta karena Bohongi Pacar soal Status Pernikahan hingga Hamil dan Melahirkan

25 June 2026 - 11:10 WIB

Jepang Siapkan Investasi Rp25.000 Triliun hingga 2040, Industri Semikonduktor dan Anime Jadi Prioritas

25 June 2026 - 10:10 WIB

Pemerintah Prefektur Mie Lanjutkan Warga Negara Asing Tetap Dapat Mengikuti Ujian Rekrutmen PNS

24 June 2026 - 12:10 WIB

Waspada! Hujan Ekstrem Ancam Kyushu, Jepang Juga Dipantau Dua Topan Sekaligus

24 June 2026 - 10:10 WIB

Legendaris! Shinkansen Seri 500 dan Doctor Yellow Akan Pensiun pada 2027

23 June 2026 - 15:10 WIB

Trending on News