Menu

Dark Mode
Fenomena Hikikomori di Jepang Makin Mengkhawatirkan, Usia Rata-rata Terus Naik Seiyuu Satomi Akesaka Umumkan Pernikahan 4 WNI Pendaki Berhasil Diselamatkan dari Gunung Ainodake, Dua Sempat Dilarikan ke Rumah Sakit Remake Anime One Piece Versi Netflix Tayang Februari 2027 dengan 7 Episode Padat Penumpang Asal Jepang Ikut Terdampak Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Tewas Bandai Namco Entertainment Umumkan DLC Kunimitsu untuk Tekken 8, Rilis Awal Akhir Mei

News

Fenomena Hikikomori di Jepang Makin Mengkhawatirkan, Usia Rata-rata Terus Naik

badge-check


					Fenomena Hikikomori di Jepang Makin Mengkhawatirkan, Usia Rata-rata Terus Naik Perbesar

KHJ, sebuah organisasi nirlaba yang memberikan dukungan bagi para hikikomori (orang yang mengisolasi diri) dan keluarganya, merilis hasil survei terbaru yang menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan.

Dalam survei yang dilakukan pada Desember hingga Januari terhadap 280 keluarga, ditemukan bahwa usia rata-rata hikikomori terus meningkat. Pada survei pertama tahun 2014, rata-rata usia berada di angka 33,1 tahun, sementara dalam hasil terbaru naik menjadi 36,9 tahun. Selain itu, sebanyak 43,1 persen hikikomori berusia di atas 40 tahun, dan 12,7 persen bahkan sudah berusia 50 tahun ke atas.

Sebagian besar hikikomori masih bergantung secara finansial pada orang tua mereka. Kenaikan usia ini menimbulkan masalah serius, terutama karena orang tua yang sudah memasuki usia pensiun tetap harus menopang anak mereka. Situasi ini juga menjadi semakin genting karena ketika orang tua meninggal, para hikikomori berisiko kehilangan satu-satunya sumber dukungan mereka.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa usia rata-rata anggota keluarga yang merawat hikikomori mencapai 66,3 tahun, juga mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya. Bahkan ditemukan kasus hikikomori berusia 60-an yang masih dirawat oleh orang tua mereka yang sudah berusia 90-an, kondisi yang jelas tidak bisa bertahan dalam jangka panjang.

Peningkatan usia ini menunjukkan bahwa hikikomori bukan sekadar fase sementara atau akibat stres sesaat. Faktor seperti bullying di sekolah dan tekanan akademik memang sering menjadi pemicu awal, namun perhatian terhadap pemulihan dan dukungan bagi hikikomori dewasa masih tergolong minim.

Salah satu direktur KHJ, Chikako Hibana, menyatakan bahwa selama ini bantuan untuk hikikomori sering dianggap hanya ditujukan bagi anak muda, padahal kenyataannya masalah ini juga banyak dialami oleh orang dewasa.

Di Jepang, hikikomori sering dianggap sebagai masalah keluarga, dan nilai budaya membuat orang tua cenderung tetap merawat anak mereka meskipun sudah dewasa. Namun, dukungan tersebut tidak bisa berlangsung selamanya, sehingga upaya untuk membantu hikikomori agar bisa mandiri dan kembali berintegrasi dengan masyarakat menjadi semakin penting di masa depan.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

4 WNI Pendaki Berhasil Diselamatkan dari Gunung Ainodake, Dua Sempat Dilarikan ke Rumah Sakit

6 May 2026 - 13:10 WIB

Penumpang Asal Jepang Ikut Terdampak Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Tewas

6 May 2026 - 10:10 WIB

Bandai Namco Entertainment Umumkan DLC Kunimitsu untuk Tekken 8, Rilis Awal Akhir Mei

5 May 2026 - 17:10 WIB

FamilyMart Uji Coba Kotak Daur Ulang Baju Bekas di Tokyo, Gandeng Bookoff Group Holdings

5 May 2026 - 15:30 WIB

4 Orang WNI Dikabarkan Tersesat di Gunung Ainodake, Pencarian Terus Dilanjutkan

5 May 2026 - 15:10 WIB

Trending on News