Sejumlah kastel ikonik di Jepang kini menghadapi dilema besar. Banyak bangunan utama kastel yang dibangun ulang menggunakan beton setelah hancur akibat Perang Dunia II kini mulai menua dan dinilai rentan terhadap gempa bumi.
Salah satunya adalah Kastel Hiroshima yang ditutup sejak Maret lalu karena masalah ketahanan gempa. Kastel yang menjadi simbol kota tersebut awalnya dibangun pada akhir abad ke-16 oleh Mori Terumoto, namun hancur akibat bom atom tahun 1945 dan dibangun kembali dengan struktur beton pada 1958.
Pemerintah Kota Hiroshima kini mempertimbangkan dua pilihan: memperbaiki bangunan beton yang ada atau membangun kembali kastel kayu seperti bentuk aslinya. Namun, rekonstruksi kayu diperkirakan baru bisa selesai paling cepat pada tahun fiskal 2049 dengan biaya mencapai sekitar 19,5 miliar yen (sekitar Rp2 triliun).
Masalah serupa juga terjadi di Kastel Nagoya dan Kastel Wakayama. Sementara itu, Kota Okayama memilih merenovasi kastelnya yang berbahan beton dan berhasil meningkatkan jumlah pengunjung setelah perbaikan selesai.
Para ahli menilai rekonstruksi kayu memang jauh lebih mahal, tetapi mampu memberikan pengalaman yang lebih autentik dan mendekati bentuk kastel asli pada masa lalu. Di sisi lain, renovasi bangunan beton dianggap lebih cepat dan lebih terjangkau.
Perdebatan mengenai masa depan kastel-kastel bersejarah ini pun terus berlanjut, antara menjaga keaslian sejarah atau memilih solusi yang lebih realistis dari sisi biaya dan waktu.
Sc : JT








