Semakin banyak keturunan warga Jepang yang tinggal di luar negeri datang ke Jepang untuk menelusuri asal-usul keluarga mereka. Tren yang dikenal sebagai “roots tourism” atau wisata akar keluarga ini berkembang pesat berkat media sosial, melemahnya nilai tukar yen, dan meningkatnya minat terhadap penelitian silsilah keluarga.
Salah satunya adalah Sergio Kohatsu, pria keturunan Jepang-Brasil berusia 68 tahun asal São Paulo. Saat mengunjungi Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction, ia akhirnya menemukan dokumen penumpang yang mencatat perjalanan ayahnya ke Brasil hampir 100 tahun lalu.
Ayah Kohatsu lahir di Okinawa pada 1929 dan berangkat ke Brasil pada tahun yang sama bersama tiga generasi keluarganya untuk bekerja di perkebunan kopi. Karena sang ayah jarang menceritakan kisah emigrasinya, Kohatsu ingin mengetahui bagaimana perjalanan keluarganya dimulai.
“Selama ini saya selalu ingin tahu bagaimana dan dengan siapa ayah saya datang ke Brasil. Dokumen seperti ini sangat penting karena menghubungkan kami dengan para leluhur,” ujarnya.
Pusat migrasi di Kobe tersebut awalnya dibangun pada 1928 sebagai tempat singgah para emigran Jepang sebelum berangkat ke luar negeri. Hingga 1971, ribuan warga Jepang memulai perjalanan mereka dari tempat ini menuju berbagai negara, termasuk Brasil.
Di sana, pengunjung dapat melihat daftar penumpang kapal, arsip perjalanan yang disimpan Perpustakaan Nasional Jepang, hingga foto-foto rombongan emigran sebelum mereka meninggalkan Jepang.
Menurut Japan-Brazil Association di Kobe, jumlah pengunjung terus meningkat. Pada tahun fiskal 2024 pusat tersebut menerima 165 rombongan, sementara pada tahun fiskal 2025 jumlahnya naik menjadi 243 rombongan.
Pihak pengelola meyakini popularitas tempat tersebut ikut terdongkrak setelah banyak diperkenalkan melalui media sosial, termasuk oleh pasangan Jepang dan Jepang-Brasil yang membagikan pengalaman mereka mencari jejak keluarga.
Pemerintah Jepang juga mulai memperhatikan tren ini karena dinilai berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara sekaligus mempererat hubungan dengan komunitas keturunan Jepang di berbagai negara.
Berbagai daerah pun mulai menyediakan layanan penelusuran silsilah keluarga. Perpustakaan Prefektur Okinawa, misalnya, sejak 2016 membantu sekitar 400.000 keturunan warga Okinawa yang tinggal di luar negeri untuk mencari asal-usul keluarga mereka dan kini menerima sekitar 250 permintaan setiap tahun.
Di Distrik Mio, Prefektur Wakayama, yang dijuluki “America Village” karena banyak warganya bermigrasi ke Kanada sejak era Meiji, pemerintah daerah juga aktif menyambut para keturunan emigran yang ingin mengenal sejarah keluarganya.
Sementara itu, sebuah perusahaan di Tokyo yang bergerak di bidang pembuatan pohon keluarga dan riset silsilah meluncurkan layanan berbahasa Inggris tahun lalu. Saat ini mereka menerima sekitar 30 hingga 50 permintaan setiap bulan, dan jumlahnya terus meningkat.
Para ahli menilai wisata akar keluarga bukan hanya membantu orang menemukan identitas leluhur mereka, tetapi juga dapat menghidupkan ekonomi daerah, memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi baru, serta memperkuat pertukaran budaya antara Jepang dan komunitas keturunannya di seluruh dunia.
Sc : JT








