Jepang sedang menghadapi peningkatan kasus Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS), penyakit yang ditularkan melalui gigitan kutu (tick) dan dapat berakibat fatal.
Berdasarkan data sementara dari lembaga kesehatan nasional Jepang, hingga 7 Juni 2026 tercatat 72 kasus SFTS, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencatat 68 kasus. Tahun lalu sendiri menjadi rekor tertinggi dengan total 192 kasus dalam satu tahun.
Menteri Kesehatan Jepang, Kenichiro Ueno, mengatakan tren jumlah pasien terus meningkat dan masyarakat di seluruh Jepang perlu meningkatkan kewaspadaan.
SFTS paling sering menular melalui gigitan kutu yang banyak ditemukan di area berumput dan hutan. Selain itu, penyakit ini juga dapat menular melalui kontak dengan darah hewan atau manusia yang terinfeksi.
Setelah masa inkubasi sekitar 6 hingga 14 hari, penderita dapat mengalami gejala seperti:
- Demam tinggi
- Muntah
- Diare
- Gangguan kesadaran
Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, diperkirakan mencapai 10–30 persen. Meski belum tersedia vaksin, Jepang telah menyetujui penggunaan obat antivirus untuk membantu pengobatan pasien.
Kasus pertama SFTS di Jepang terkonfirmasi pada tahun 2013 di Yamaguchi Prefecture. Sejak 2022, jumlah kasus tahunan selalu menembus angka 100, dan sebagian besar kasus masih terkonsentrasi di wilayah Jepang bagian barat.
Pemerintah Jepang mengimbau masyarakat untuk mengenakan pakaian yang menutupi kulit saat memasuki area berumput atau hutan, serta menggunakan obat anti-serangga pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing guna mengurangi risiko infeksi.
Sc : JT








