Hujan deras mengguyur wilayah Jepang timur, terutama Prefektur Chiba, pada Kamis hingga Jumat (14–15 Agustus), menyebabkan banjir, gangguan transportasi, dan korban jiwa.
Sedikitnya 8 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Badan Meteorologi Jepang (JMA) sempat mengeluarkan peringatan Level 5, level tertinggi, untuk hujan lebat dan tanah longsor di lebih dari sepertiga wilayah administratif di Chiba. Peringatan tersebut kemudian diturunkan pada Jumat pagi.
Ini menjadi pertama kalinya peringatan Level 5 untuk hujan dan tanah longsor dikeluarkan sejak sistem informasi cuaca bencana terbaru JMA mulai diterapkan pada Mei 2026.
Pada puncaknya, perintah evakuasi diberlakukan untuk lebih dari 400.000 orang. Sekitar 7.000 orang bahkan terpaksa bermalam di Bandara Narita karena tidak dapat melanjutkan perjalanan. Sekitar 1.700 orang juga berlindung di gedung Pemerintah Prefektur Chiba setelah terjebak akibat gangguan transportasi.
Banjir terjadi di berbagai wilayah Chiba dan menyebabkan kendaraan terjebak serta kemacetan parah. Pemerintah Prefektur Chiba kemudian meminta bantuan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) untuk membantu mengevakuasi warga yang tidak dapat pulang.
Lebih dari 200 pusat evakuasi dibuka di Chiba, Ibaraki, Saitama, dan Gunma.
Curah hujan juga mencapai angka ekstrem. Di Chuo Ward, Kota Chiba, curah hujan mencapai 115 mm dalam satu jam, sementara Sakura mencatat 189,5 mm dalam tiga jam, yang menjadi rekor tertinggi di wilayah tersebut.
Hujan deras turut mengganggu transportasi. Sejumlah layanan kereta, termasuk JR Keiyo, Kururi, dan Uchibo, dihentikan sementara. Pemadaman listrik juga sempat berdampak pada sekitar 45.000 rumah di Prefektur Chiba.
JMA memperingatkan bahwa hujan deras masih dapat berlanjut di Chiba dan sekitarnya hingga Sabtu.
Sc : KN








