Sebuah perusahaan rintisan (startup) asal Jepang mengumumkan akan memulai uji klinis transplantasi ginjal babi ke manusia di dua rumah sakit paling cepat pada tahun 2028. Jika berhasil, prosedur ini akan menjadi yang pertama dilakukan di Jepang.
Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kekurangan donor organ yang selama ini menjadi masalah di Jepang. Sebelumnya, transplantasi ginjal babi ke manusia telah diuji coba secara terbatas di Amerika Serikat dan China.
Menurut Japan Organ Transplant Network, sekitar 300.000 orang di Jepang menjalani cuci darah. Hingga akhir Mei, sekitar 15.000 pasien masih menunggu donor ginjal, dengan waktu tunggu rata-rata mencapai 15 tahun, lebih lama dibandingkan transplantasi organ lainnya.
Startup PorMedTec, yang merupakan perusahaan binaan Universitas Meiji, akan melakukan transplantasi di Rumah Sakit Universitas Hokkaido di Sapporo dan Shonan Kamakura General Hospital di Prefektur Kanagawa.
Ginjal yang akan digunakan berasal dari babi yang telah direkayasa secara genetik untuk mengurangi risiko penolakan oleh tubuh manusia. Menurut PorMedTec, gen babi tersebut telah dimodifikasi pada 69 bagian agar organ yang ditransplantasikan lebih mudah diterima oleh penerima.
“Kami ingin meletakkan dasar bagi pengembangan xenotransplantasi di Jepang,” ujar Direktur PorMedTec sekaligus profesor Universitas Meiji, Hiroshi Nagashima.
Perusahaan ini mengimpor sel babi hasil rekayasa genetika dari perusahaan bioteknologi Amerika Serikat, eGenesis, lalu membiakkan babi dengan karakteristik yang sama di Jepang.
Sejak 2024, eGenesis telah melakukan transplantasi ginjal babi kepada empat pasien. Dalam salah satu kasus, seorang pasien dapat hidup sekitar sembilan bulan tanpa menjalani cuci darah sebelum akhirnya menerima transplantasi ginjal dari donor manusia.
PorMedTec mengatakan akan menyusun rencana detail uji klinis tersebut dan berharap terapi ini dapat digunakan secara luas bagi pasien gagal ginjal berat setelah memperoleh izin produksi dan pemasaran.
Meski dinilai berpotensi menjadi solusi atas minimnya donor organ, para ahli mengingatkan bahwa xenotransplantasi masih memiliki tantangan, termasuk risiko infeksi serta beban psikologis bagi pasien yang menerimanya.








