Pemerintah Jepang mengumumkan bahwa jumlah makanan yang masih layak dikonsumsi tetapi terbuang pada tahun fiskal 2024 turun menjadi 4,61 juta ton, rekor terendah selama tiga tahun berturut-turut.
Angka tersebut berkurang sekitar 30 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah menyatakan akan terus menekan angka sampah makanan dengan mendorong penyaluran bahan pangan melalui food bank, yaitu lembaga yang mengumpulkan makanan yang masih layak konsumsi namun mendekati batas tanggal terbaik sebelum (best before) untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Data menunjukkan bahwa limbah makanan dari sektor bisnis, seperti produsen makanan dan restoran, justru naik 60 ribu ton menjadi 2,37 juta ton. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya kembali aktivitas makan di luar rumah setelah pandemi COVID-19.
Sebaliknya, sampah makanan dari rumah tangga turun 90 ribu ton menjadi 2,24 juta ton, yang dinilai mencerminkan semakin tingginya kesadaran masyarakat Jepang untuk mengurangi pemborosan makanan.
Pemerintah menargetkan pada tahun fiskal 2030 jumlah sampah makanan dari sektor bisnis turun menjadi 2,19 juta ton, sementara dari rumah tangga menjadi 2,16 juta ton.
Sepanjang tahun fiskal 2024, pemborosan makanan di Jepang diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 3,8 triliun yen, atau sekitar 31.097 yen per orang.
Sebagai perbandingan, laporan Food Waste Index 2024 dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebutkan bahwa dunia menghasilkan sekitar 1,05 miliar ton sampah makanan pada tahun 2022.
Sc : JT








