Operator Bandara Narita bersama pemerintah Jepang resmi memulai prosedur akuisisi lahan secara paksa untuk mempercepat proyek perluasan Bandara Narita yang selama ini terhambat masalah pembebasan lahan.
Keputusan tersebut disepakati oleh komite yang terdiri dari Narita International Airport Corporation (NAA), Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang, Pemerintah Prefektur Chiba, serta pemerintah daerah di sekitar bandara.
Proyek ini mencakup pembangunan Landasan Pacu C (Runway C) sepanjang 3.500 meter serta perpanjangan Landasan Pacu B sejauh 1.000 meter, yang telah mulai dikerjakan sejak 2025.
Namun hingga kini, sekitar 53 hektare lahan atau 4,8 persen dari total lahan yang dibutuhkan masih belum berhasil dibebaskan karena sebagian pemilik tanah belum menyetujui proyek tersebut.
Presiden Narita International Airport Corporation, Naoki Fujii, mengatakan pihaknya menyadari sejarah panjang konflik pembebasan lahan saat pembangunan Bandara Narita dan akan tetap berupaya memperoleh persetujuan para pemilik tanah sambil mempertimbangkan kondisi mereka.
Setelah proyek selesai, luas Bandara Narita akan hampir dua kali lipat, dari saat ini menjadi sekitar 2.297 hektare. Kapasitas lepas landas dan pendaratan pesawat juga akan meningkat dari 340.000 menjadi 500.000 penerbangan per tahun.
Perluasan ini dilakukan untuk mengakomodasi lonjakan wisatawan mancanegara yang datang ke Jepang serta meningkatnya kebutuhan logistik udara.
Bandara Narita sendiri dibuka pada tahun 1978 setelah melalui proses pembangunan yang penuh penolakan dari warga. Konflik pembebasan lahan bahkan menjadi salah satu sengketa pembangunan bandara paling terkenal dalam sejarah Jepang.
Sc : JT








