Menu

Dark Mode
Temukan Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi di Dasar Laut, Bisa Kurangi Ketergantungan pada China Asosiasi Sepak Bola Jepang Tetap Pertahankan Hajime Moriyasu di Kursi Pelatih TImnas Hingga Piala Asia 2027 Bandai Resmi Umumkan Anime Gundam Baru Berjudul RG XARX-ZERO WN China Ditangkap karena Jalankan Taksi Ilegal di Jepang, Raup Ratusan Juta Yen WNI di Jepang Ditangkap Lagi, Diduga Bunuh Bayi yang Baru Dilahirkan karena Takut Kehilangan Pekerjaan Live-Action GTO Kembali! Onizuka Hadapi Sekolah Era Media Sosial, Kini Tayang di Netflix

News

Temukan Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi di Dasar Laut, Bisa Kurangi Ketergantungan pada China

badge-check


					Temukan Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi di Dasar Laut, Bisa Kurangi Ketergantungan pada China Perbesar

Sebuah proyek penelitian Jepang berhasil menemukan berbagai jenis logam tanah jarang (rare earth) bernilai tinggi dari lumpur dasar laut di sekitar Pulau Minamitori, Samudra Pasifik. Temuan ini dinilai sebagai langkah penting untuk memperkuat pasokan bahan baku strategis Jepang.

Badan Riset Kelautan dan Bumi Jepang (JAMSTEC) mengungkapkan bahwa sekitar 54 persen unsur yang berhasil diambil merupakan logam tanah jarang kategori sedang dan berat, seperti yttrium, gadolinium, dan dysprosium. Sementara itu, 46 persen sisanya merupakan logam tanah jarang ringan, termasuk neodymium.

Meski belum mengungkapkan total jumlah logam yang berhasil diperoleh, para peneliti menilai hasil tersebut sangat menjanjikan. Pemimpin proyek, Shoichi Ishii dari Kantor Kabinet Jepang, mengatakan bahwa penemuan yttrium memiliki nilai yang sangat penting karena harga mineral tersebut terus meningkat di pasar global.

Berdasarkan hasil penelitian ini, Jepang berencana melakukan uji penambangan skala penuh selama sekitar satu bulan mulai Februari 2027. Pemerintah kemudian akan mengevaluasi kelayakan industri penambangan tersebut dan menargetkan penyelesaian kajian pada Maret 2028.

Selama ini Jepang masih sangat bergantung pada impor logam tanah jarang dari China. Namun, di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara dan semakin ketatnya pembatasan ekspor mineral strategis dari China, Jepang berupaya membangun pasokan dari dalam negeri.

Logam tanah jarang merupakan bahan baku penting untuk berbagai industri teknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik, semikonduktor, hingga peralatan pertahanan.

Dalam proyek yang dimulai sejak tahun fiskal 2018 tersebut, kapal riset Chikyu milik JAMSTEC telah mengambil sekitar 50 ton lumpur dari kedalaman sekitar 5.600 meter di sekitar Pulau Minamitori, yang berjarak sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo.

Pada tahap berikutnya, tim peneliti menargetkan dapat mengangkat sekitar 350 ton lumpur setiap hari selama uji penambangan. Lumpur tersebut akan dibawa ke Pulau Minamitori untuk dikeringkan sebelum diproses lebih lanjut menjadi logam tanah jarang di daratan utama Jepang.

Meski demikian, biaya penambangan masih menjadi tantangan besar karena lokasi Pulau Minamitori sangat terpencil sehingga membutuhkan biaya logistik yang tinggi untuk mengangkut peralatan maupun tenaga kerja.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengatakan bahwa keberadaan cadangan logam tanah jarang berkualitas tinggi di wilayah ekonomi eksklusif Jepang akan membantu mengurangi ketergantungan negara terhadap pemasok tertentu sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dan industri nasional.

Pemerintah Jepang menyatakan akan segera melanjutkan berbagai uji coba untuk mempercepat pengembangan penambangan dalam skala industri.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Asosiasi Sepak Bola Jepang Tetap Pertahankan Hajime Moriyasu di Kursi Pelatih TImnas Hingga Piala Asia 2027

25 July 2026 - 10:05 WIB

WN China Ditangkap karena Jalankan Taksi Ilegal di Jepang, Raup Ratusan Juta Yen

23 July 2026 - 16:10 WIB

WNI di Jepang Ditangkap Lagi, Diduga Bunuh Bayi yang Baru Dilahirkan karena Takut Kehilangan Pekerjaan

23 July 2026 - 13:17 WIB

Proyek Kereta Maglev Jepang Maju, Tapi Baru Bisa Beroperasi Paling Cepat Tahun 2036

23 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Catat Hari “Panas Ekstrem” Pertama, Suhu Tembus 40°C dan Tewaskan Tiga Orang

22 July 2026 - 13:10 WIB

Trending on News