Sebuah proyek penelitian Jepang berhasil menemukan berbagai jenis logam tanah jarang (rare earth) bernilai tinggi dari lumpur dasar laut di sekitar Pulau Minamitori, Samudra Pasifik. Temuan ini dinilai sebagai langkah penting untuk memperkuat pasokan bahan baku strategis Jepang.
Badan Riset Kelautan dan Bumi Jepang (JAMSTEC) mengungkapkan bahwa sekitar 54 persen unsur yang berhasil diambil merupakan logam tanah jarang kategori sedang dan berat, seperti yttrium, gadolinium, dan dysprosium. Sementara itu, 46 persen sisanya merupakan logam tanah jarang ringan, termasuk neodymium.
Meski belum mengungkapkan total jumlah logam yang berhasil diperoleh, para peneliti menilai hasil tersebut sangat menjanjikan. Pemimpin proyek, Shoichi Ishii dari Kantor Kabinet Jepang, mengatakan bahwa penemuan yttrium memiliki nilai yang sangat penting karena harga mineral tersebut terus meningkat di pasar global.
Berdasarkan hasil penelitian ini, Jepang berencana melakukan uji penambangan skala penuh selama sekitar satu bulan mulai Februari 2027. Pemerintah kemudian akan mengevaluasi kelayakan industri penambangan tersebut dan menargetkan penyelesaian kajian pada Maret 2028.
Selama ini Jepang masih sangat bergantung pada impor logam tanah jarang dari China. Namun, di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara dan semakin ketatnya pembatasan ekspor mineral strategis dari China, Jepang berupaya membangun pasokan dari dalam negeri.
Logam tanah jarang merupakan bahan baku penting untuk berbagai industri teknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik, semikonduktor, hingga peralatan pertahanan.
Dalam proyek yang dimulai sejak tahun fiskal 2018 tersebut, kapal riset Chikyu milik JAMSTEC telah mengambil sekitar 50 ton lumpur dari kedalaman sekitar 5.600 meter di sekitar Pulau Minamitori, yang berjarak sekitar 1.900 kilometer di tenggara Tokyo.
Pada tahap berikutnya, tim peneliti menargetkan dapat mengangkat sekitar 350 ton lumpur setiap hari selama uji penambangan. Lumpur tersebut akan dibawa ke Pulau Minamitori untuk dikeringkan sebelum diproses lebih lanjut menjadi logam tanah jarang di daratan utama Jepang.
Meski demikian, biaya penambangan masih menjadi tantangan besar karena lokasi Pulau Minamitori sangat terpencil sehingga membutuhkan biaya logistik yang tinggi untuk mengangkut peralatan maupun tenaga kerja.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengatakan bahwa keberadaan cadangan logam tanah jarang berkualitas tinggi di wilayah ekonomi eksklusif Jepang akan membantu mengurangi ketergantungan negara terhadap pemasok tertentu sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi dan industri nasional.
Pemerintah Jepang menyatakan akan segera melanjutkan berbagai uji coba untuk mempercepat pengembangan penambangan dalam skala industri.
Sc : JT








