Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa Jepang menargetkan investasi sebesar 1 triliun yen atau sekitar US$6 miliar dari perusahaan-perusahaan Jepang ke Bangladesh dalam lima tahun ke depan. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman di Tokyo, Selasa.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat memperkuat kerja sama ekonomi dengan memperluas kerangka kerja sama bilateral untuk mendorong pertumbuhan industri di sekitar Teluk Benggala, kawasan yang memiliki nilai strategis bagi kedua negara.
Takaichi mengatakan Jepang akan mendukung kemandirian dan ketahanan Bangladesh. Ia juga menyampaikan harapan agar Jepang dapat berkontribusi terhadap perdamaian dan kemakmuran kawasan.
Kesepakatan ini mencakup pengembangan inisiatif Bay of Bengal Industrial Growth Belt (BIG-B) yang telah berjalan sejak 2014. Kedua negara sepakat memperluasnya menjadi kerangka baru bernama “BIG-B for Shared Prosperity” atau BIG-B untuk Kemakmuran Bersama.
Kerangka tersebut bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi kedua negara di tengah risiko geopolitik dan gangguan rantai pasok global. Salah satu fokusnya adalah pengembangan pelabuhan laut dalam yang dibangun dengan dukungan pinjaman yen dari Jepang, serta infrastruktur pendukung untuk menarik investasi dan menjadikan Bangladesh sebagai pusat kegiatan ekonomi regional.
Kunjungan ini menjadi kunjungan pertama Rahman ke Jepang sejak menjabat sebagai perdana menteri pada Februari 2026. Ia mulai memimpin Bangladesh setelah partainya memenangkan pemilihan parlemen, menyusul lengsernya mantan perdana menteri Sheikh Hasina pada 2024.
Jepang juga mendorong kerja sama melalui pendekatan Free and Open Indo-Pacific atau Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka, kebijakan yang dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan pengaruh di kawasan. Dalam pernyataan bersama, Rahman disebut memahami pentingnya pendekatan tersebut untuk menjaga perdamaian dan kemakmuran.
Di sisi lain, Bangladesh juga memperkuat hubungan dengan China. Pada Juni, Rahman mengunjungi China dan bertemu Presiden Xi Jinping. Kedua negara sepakat meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan dan infrastruktur. Bangladesh sendiri menerapkan pendekatan diplomasi yang berupaya menjaga hubungan dengan berbagai negara.
Hubungan Jepang dan Bangladesh terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, kedua negara meningkatkan hubungan menjadi kemitraan strategis. Kemudian, pada Februari 2026, keduanya menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi yang mencakup langkah-langkah pengurangan tarif.
Kerja sama juga meluas ke bidang keamanan maritim. Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan kedua negara telah bertukar nota pada Senin terkait bantuan hibah senilai 2,12 miliar yen untuk menyediakan kapal patroli buatan Jepang bagi Penjaga Pantai Bangladesh. Kapal tersebut akan digunakan untuk menangani kejahatan dan melakukan operasi penyelamatan di Teluk Benggala.
Sebelumnya, pada Juli, Jepang juga mengumumkan penyerahan lima kapal patroli kepada Angkatan Laut Bangladesh melalui kerangka bantuan penyediaan peralatan pertahanan bagi negara-negara mitra.
Melalui berbagai kesepakatan ini, Jepang dan Bangladesh berupaya memperkuat hubungan ekonomi dan keamanan, sekaligus meningkatkan ketahanan menghadapi ketidakpastian global.
Sc : KN








