Menu ✖

Dark Mode
Mantan PM Jepang Yasuo Fukuda Meninggal Dunia pada Usia 90 Tahun Anime Patlabor EZY Bakal Diadaptasi Menjadi Novel pada 2027 Jepang Targetkan Investasi ¥1 Triliun di Bangladesh dalam 5 Tahun JR East Jepang Gunakan Robot Humanoid Bersenjatakan Gergaji Mesin untuk Pangkas Pohon di Jalur Kereta Film Spesial 2 Jam Detective Conan Tayang di Indonesia 11 November 2026 Pria Asal Indonesia Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Yamanashi Lewat Program Tokutei Ginou

News

Mantan PM Jepang Yasuo Fukuda Meninggal Dunia pada Usia 90 Tahun

badge-check


					Mantan PM Jepang Yasuo Fukuda Meninggal Dunia pada Usia 90 Tahun Perbesar

Mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda meninggal dunia pada Kamis dalam usia 90 tahun. Kabar tersebut diumumkan oleh putranya pada Senin. Menurut laporan media setempat, Fukuda meninggal akibat gagal jantung di sebuah rumah sakit di Tokyo.

Fukuda memimpin Jepang pada September 2007 hingga September 2008. Ia menjabat setelah Shinzo Abe mengundurkan diri secara mendadak. Fukuda merupakan putra mantan Perdana Menteri Jepang Takeo Fukuda. Keduanya tercatat sebagai pasangan ayah dan anak pertama yang sama-sama pernah menjabat sebagai perdana menteri Jepang.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan penghormatan atas kepergian Fukuda. Ia memuji pengalaman dan wawasan Fukuda yang dinilai berkontribusi besar terhadap stabilitas politik serta pembangunan Jepang. Melalui unggahan di media sosial X, Takaichi juga menyampaikan terima kasih atas pengabdian Fukuda selama bertahun-tahun kepada negara dan masyarakat.

Dalam bidang diplomasi, Fukuda dikenal berupaya mempererat hubungan Jepang dengan China. Pada Mei 2008, ia menjadi tuan rumah kunjungan kenegaraan Presiden China saat itu, Hu Jintao. Kedua pemimpin mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan yang saling menguntungkan berdasarkan kepentingan strategis bersama.

Pada Juli 2008, Fukuda juga memimpin pertemuan puncak kelompok negara maju G8 di Hokkaido, Jepang. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin sepakat mendorong target global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca setidaknya 50 persen pada 2050. Isu perubahan iklim pun menjadi salah satu agenda utama kelompok tersebut.

Setelah tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri, Fukuda tetap menjaga hubungan dengan China dan mempertahankan komunikasi dengan para pemimpinnya. Pada Juli 2014, ia bertemu secara tertutup dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Pertemuan itu turut membuka jalan bagi pertemuan tingkat tinggi pertama antara Shinzo Abe dan Xi pada November tahun yang sama.

Kementerian Luar Negeri China turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Fukuda. Juru bicara kementerian, Guo Jiakun, menyebutnya sebagai sahabat lama rakyat China dan mengapresiasi kontribusinya dalam mempererat hubungan kedua negara.

Di dalam negeri, pemerintahan Fukuda membantu mendorong lahirnya undang-undang kompensasi bagi orang-orang yang terinfeksi hepatitis C akibat produk darah yang terkontaminasi. Kebijakan tersebut muncul setelah para korban menjalani proses hukum selama bertahun-tahun. Fukuda juga secara langsung menyampaikan permintaan maaf kepada para korban sebanyak dua kali selama masa jabatannya.

Fukuda turut meletakkan dasar pembentukan Badan Urusan Konsumen Jepang (Consumer Affairs Agency). Lembaga ini dirancang untuk memperkuat perlindungan konsumen setelah sejumlah kasus keamanan pangan mencuat. Badan tersebut resmi beroperasi pada 2009, setelah Fukuda meninggalkan jabatannya.

Sebelum menjadi perdana menteri, Fukuda pernah menjabat sebagai sekretaris kabinet utama di bawah pemerintahan Yoshiro Mori dan Junichiro Koizumi. Ia pertama kali terpilih menjadi anggota majelis rendah parlemen Jepang pada 1990, mewakili daerah pemilihan di Prefektur Gunma.

Meski awal masa jabatannya mendapat tingkat dukungan publik yang tinggi, pemerintahan Fukuda menghadapi berbagai tantangan politik. Partai-partai oposisi menguasai majelis tinggi parlemen, sementara kebijakan baru mengenai asuransi kesehatan bagi warga lanjut usia dan skandal jutaan catatan pensiun publik yang tidak cocok memicu kontroversi serta menurunkan dukungan masyarakat.

Pada September 2008, Fukuda mengumumkan pengunduran dirinya, kurang dari setahun setelah menjabat. Ia kemudian digantikan oleh Taro Aso dan pensiun dari dunia politik pada 2012. Kepergiannya meninggalkan catatan kiprah panjang dalam politik domestik Jepang sekaligus upaya memperkuat hubungan diplomatik dengan China.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Targetkan Investasi ¥1 Triliun di Bangladesh dalam 5 Tahun

28 October 2026 - 10:10 WIB

Pria Asal Indonesia Jadi Sopir Bus Asing Pertama di Yamanashi Lewat Program Tokutei Ginou

27 October 2026 - 10:10 WIB

Jepang Kembangkan Mesin Kapal Berbahan Bakar Hidrogen, Diklaim Pangkas Emisi CO₂ Lebih dari 95 Persen

26 October 2026 - 10:10 WIB

Jepang Kekurangan Guru Bahasa Jepang untuk Pekerja Asing, Jelang Penerapan Sistem Baru 2027

26 October 2026 - 07:25 WIB

Populasi Hokkaido Turun di Bawah 5 Juta Jiwa, Penurunan Terbesar di Jepang

23 October 2026 - 18:10 WIB

Trending on News