Menu

Dark Mode
Season 2 Saga of Tanya the Evil Siap Tayang Tahun 2026, Rilis Teaser Baru Mulai April 2026, Orang Tua yang Cerai di Jepang Wajib Bayar Nafkah Anak ¥20.000 per Bulan Manga “SHION” Dapat Adaptasi Anime Mulai 1 Desember Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Larangan Nikah Sesama Jenis Masih Sesuai Konstitusi Jepang Jumlah Petani Jepang Anjlok 25% dalam Lima Tahun, Picu Kekhawatiran Ketahanan Pangan Kadokawa Rilis Manga Baru “Tsukuru Niwa” Karya Mikanuji di Comic Newtype

Teknologi

Jepang Andalkan Panel Surya Fleksibel untuk Capai Target Energi Terbarukan

badge-check


					Jepang Andalkan Panel Surya Fleksibel untuk Capai Target Energi Terbarukan Perbesar

Jepang tengah gencar mengembangkan panel surya ultra-tipis dan fleksibel berbasis perovskite guna mengejar target energi terbarukan sekaligus menyaingi dominasi Tiongkok di sektor ini.

Panel perovskite dianggap cocok untuk kondisi geografis Jepang yang bergunung-gunung dan minim lahan datar untuk ladang surya konvensional. Salah satu bahan utamanya adalah yodium—di mana Jepang merupakan produsen terbesar kedua dunia setelah Chile.

Meski menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi tantangan. Panel perovskite mengandung timbal beracun, efisiensinya masih di bawah panel silikon, dan usia pakainya hanya sekitar 10 tahun—bandingkan dengan panel silikon yang bisa bertahan hingga 30 tahun. Meski begitu, perovskite dinilai sebagai “kartu terbaik” Jepang untuk mencapai dekarbonisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri, menurut Menteri Industri Yoji Muto.

Pemerintah telah menggelontorkan subsidi besar, termasuk 157 miliar yen (sekitar Rp15 triliun) untuk Sekisui Chemical agar membangun pabrik yang mampu memproduksi panel perovskite setara 100 megawatt pada 2027—cukup untuk memenuhi kebutuhan 30.000 rumah tangga.

Targetnya, pada 2040 Jepang ingin membangkitkan 20 gigawatt listrik dari panel perovskite, setara dengan penambahan sekitar 20 reaktor nuklir. Panel ini juga diharapkan berkontribusi dalam memenuhi hingga 50% kebutuhan listrik dari energi terbarukan.

Berbeda dari panel silikon yang berat dan kaku, panel perovskite bisa dipasang di permukaan melengkung atau tidak rata karena lentur dan sangat ringan. Beberapa proyek sudah mulai mengadopsinya, seperti gedung 46 lantai di Tokyo yang dijadwalkan rampung 2028, stadion bisbol di Fukuoka, dan jendela berpanel surya yang dikembangkan Panasonic.

Meski masih jauh dari produksi massal, teknologi ini berkembang pesat. Prototipe terbaru hampir menyamai efisiensi panel silikon dan diprediksi bisa bertahan hingga 20 tahun. Pakar energi dari Universitas Tokyo, Hiroshi Segawa, memperkirakan Jepang bisa mencapai kapasitas 40 gigawatt dari perovskite pada 2040.

“Ini bukan soal memilih antara silikon atau perovskite,” ujar Segawa. “Yang penting adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi energi terbarukan. Jika Jepang berhasil menciptakan model yang baik, teknologi ini bisa dikembangkan ke seluruh dunia.”

Sc :JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

JR Central Akan Uji Layanan AI Multibahasa untuk Turis di Stasiun Shinagawa Desember Mendatang

25 November 2025 - 14:10 WIB

Pemerintah Jepang Uji Coba Shuttle Self-Driving untuk Mobilitas Pejabat Pemerintahan

19 November 2025 - 15:10 WIB

Sony Luncurkan PS5 Versi Khusus Jepang dengan Harga Turun 25% untuk Bersaing dengan Nintendo Switch 2

13 November 2025 - 16:21 WIB

Otoritas Ungkap Penyebab Bus Tanpa Sopir di Tokyo Tabrak Pohon Akibat Kesalahan Sistem Navigasi

12 November 2025 - 11:10 WIB

Polisi Tokyo Manfaatkan AI dan Drone untuk Tangani Kasus Stalker dan Bencana

7 November 2025 - 17:10 WIB

Trending on Teknologi