Menu

Dark Mode
Restoran Tradisional di Kyoto Raih 3 Bintang Michelin Pertama dalam 6 Tahun Kepanikan di Kereta JR Jepang, 3 Orang Sekeluarga Dilarikan ke Rumah Sakit Timnas Indonesia Masuk Grup F di Piala Asia 2027, Hadapi Jepang hingga Qatar Prefektur Ibaraki Jepang Mulai Kasih Imbalan Uang untuk Pelapor Pekerja Asing Ilegal Meru Nukumi Gabung Serial Live-Action Baru GTO, Jadi Guru Pendamping Kelas Onizuka Miyazaki Perkuat Kerja Sama dengan Indonesia untuk Perekrutan Tenaga Kerja

Teknologi

Jepang Andalkan Panel Surya Fleksibel untuk Capai Target Energi Terbarukan

badge-check


					Jepang Andalkan Panel Surya Fleksibel untuk Capai Target Energi Terbarukan Perbesar

Jepang tengah gencar mengembangkan panel surya ultra-tipis dan fleksibel berbasis perovskite guna mengejar target energi terbarukan sekaligus menyaingi dominasi Tiongkok di sektor ini.

Panel perovskite dianggap cocok untuk kondisi geografis Jepang yang bergunung-gunung dan minim lahan datar untuk ladang surya konvensional. Salah satu bahan utamanya adalah yodium—di mana Jepang merupakan produsen terbesar kedua dunia setelah Chile.

Meski menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi tantangan. Panel perovskite mengandung timbal beracun, efisiensinya masih di bawah panel silikon, dan usia pakainya hanya sekitar 10 tahun—bandingkan dengan panel silikon yang bisa bertahan hingga 30 tahun. Meski begitu, perovskite dinilai sebagai “kartu terbaik” Jepang untuk mencapai dekarbonisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri, menurut Menteri Industri Yoji Muto.

Pemerintah telah menggelontorkan subsidi besar, termasuk 157 miliar yen (sekitar Rp15 triliun) untuk Sekisui Chemical agar membangun pabrik yang mampu memproduksi panel perovskite setara 100 megawatt pada 2027—cukup untuk memenuhi kebutuhan 30.000 rumah tangga.

Targetnya, pada 2040 Jepang ingin membangkitkan 20 gigawatt listrik dari panel perovskite, setara dengan penambahan sekitar 20 reaktor nuklir. Panel ini juga diharapkan berkontribusi dalam memenuhi hingga 50% kebutuhan listrik dari energi terbarukan.

Berbeda dari panel silikon yang berat dan kaku, panel perovskite bisa dipasang di permukaan melengkung atau tidak rata karena lentur dan sangat ringan. Beberapa proyek sudah mulai mengadopsinya, seperti gedung 46 lantai di Tokyo yang dijadwalkan rampung 2028, stadion bisbol di Fukuoka, dan jendela berpanel surya yang dikembangkan Panasonic.

Meski masih jauh dari produksi massal, teknologi ini berkembang pesat. Prototipe terbaru hampir menyamai efisiensi panel silikon dan diprediksi bisa bertahan hingga 20 tahun. Pakar energi dari Universitas Tokyo, Hiroshi Segawa, memperkirakan Jepang bisa mencapai kapasitas 40 gigawatt dari perovskite pada 2040.

“Ini bukan soal memilih antara silikon atau perovskite,” ujar Segawa. “Yang penting adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi energi terbarukan. Jika Jepang berhasil menciptakan model yang baik, teknologi ini bisa dikembangkan ke seluruh dunia.”

Sc :JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Universitas di Tokyo Buka Laboratorium Tanpa Peneliti Manusia, Semua Eksperimen Dilakukan Robot

11 May 2026 - 10:10 WIB

Lexus Luncurkan SUV Listrik 3 Baris Pertama, Siap Rilis di Jepang Musim Dingin

8 May 2026 - 10:10 WIB

Robot Haro dari Anime Mobile Suit Gundam Akan Dikirim ke Luar Angkasa oleh Startup Jepang

7 May 2026 - 10:10 WIB

Denso Kembangkan Teknologi Cas Mobil Listrik Saat Jalan, Target 2029

5 May 2026 - 10:10 WIB

Robot Legendaris Honda P2 Raih Penghargaan Dunia, Pelopor Gerakan Robot Mirip Manusia

29 April 2026 - 10:10 WIB

Trending on Teknologi