Menu

Dark Mode
Festival Yosakoi Dimulai di Jepang, Ribuan Penari Tetap Semangat di Tengah Panas Bencana Tanah Longsor di Prefektur Nagano, Kemlu RI : Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban Pokémon dan YOSHIKI Donasikan Ratusan Juta Yen untuk Korban Gempa Kumamoto WNI Berusia 20 Tahun Dikabarkan Hilang dari Kapal di Perairan Jepang, Diduga Jatuh ke Laut Nagasaki Peringati 81 Tahun Bom Atom, Wali Kota: Senjata Nuklir Adalah Kejahatan Mutlak Jepang Mulai Lindungi Suara Seiyuu dari Penyalahgunaan AI

Teknologi

Jepang Andalkan Panel Surya Fleksibel untuk Capai Target Energi Terbarukan

badge-check


					Jepang Andalkan Panel Surya Fleksibel untuk Capai Target Energi Terbarukan Perbesar

Jepang tengah gencar mengembangkan panel surya ultra-tipis dan fleksibel berbasis perovskite guna mengejar target energi terbarukan sekaligus menyaingi dominasi Tiongkok di sektor ini.

Panel perovskite dianggap cocok untuk kondisi geografis Jepang yang bergunung-gunung dan minim lahan datar untuk ladang surya konvensional. Salah satu bahan utamanya adalah yodium—di mana Jepang merupakan produsen terbesar kedua dunia setelah Chile.

Meski menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi tantangan. Panel perovskite mengandung timbal beracun, efisiensinya masih di bawah panel silikon, dan usia pakainya hanya sekitar 10 tahun—bandingkan dengan panel silikon yang bisa bertahan hingga 30 tahun. Meski begitu, perovskite dinilai sebagai “kartu terbaik” Jepang untuk mencapai dekarbonisasi sekaligus meningkatkan daya saing industri, menurut Menteri Industri Yoji Muto.

Pemerintah telah menggelontorkan subsidi besar, termasuk 157 miliar yen (sekitar Rp15 triliun) untuk Sekisui Chemical agar membangun pabrik yang mampu memproduksi panel perovskite setara 100 megawatt pada 2027—cukup untuk memenuhi kebutuhan 30.000 rumah tangga.

Targetnya, pada 2040 Jepang ingin membangkitkan 20 gigawatt listrik dari panel perovskite, setara dengan penambahan sekitar 20 reaktor nuklir. Panel ini juga diharapkan berkontribusi dalam memenuhi hingga 50% kebutuhan listrik dari energi terbarukan.

Berbeda dari panel silikon yang berat dan kaku, panel perovskite bisa dipasang di permukaan melengkung atau tidak rata karena lentur dan sangat ringan. Beberapa proyek sudah mulai mengadopsinya, seperti gedung 46 lantai di Tokyo yang dijadwalkan rampung 2028, stadion bisbol di Fukuoka, dan jendela berpanel surya yang dikembangkan Panasonic.

Meski masih jauh dari produksi massal, teknologi ini berkembang pesat. Prototipe terbaru hampir menyamai efisiensi panel silikon dan diprediksi bisa bertahan hingga 20 tahun. Pakar energi dari Universitas Tokyo, Hiroshi Segawa, memperkirakan Jepang bisa mencapai kapasitas 40 gigawatt dari perovskite pada 2040.

“Ini bukan soal memilih antara silikon atau perovskite,” ujar Segawa. “Yang penting adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi energi terbarukan. Jika Jepang berhasil menciptakan model yang baik, teknologi ini bisa dikembangkan ke seluruh dunia.”

Sc :JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Honda Kembangkan Tangan Robot Canggih, Siap Gantikan Pekerjaan di Pabrik?

6 August 2026 - 12:30 WIB

Jepang Kembangkan Kembang Api Ramah Lingkungan, Sisa Ledakannya Bisa Larut dalam Sehari

3 August 2026 - 15:10 WIB

KDDI Luncurkan Aplikasi AI dengan Jawaban Bersumber dari Media Resmi Jepang

29 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Mulai Operasikan Taksi Mini Berbahan Bakar Gas Pertama

3 July 2026 - 07:11 WIB

AI di Jepang Kini Bisa “Menerjemahkan” Tangisan Bayi, Bantu Orang Tua Tahu Penyebabnya

26 June 2026 - 16:10 WIB

Trending on Teknologi