Menu

Dark Mode
Trailer Film Live-Action “Street Fighter” Rilis, Jason Momoa Jadi Blanka! Honda Jual Mobil Listrik Buatan China di Jepang, Pertama Kalinya untuk Pasar Domestik Jalur Alpen Tateyama Kembali Dibuka, Tembok Salju Setinggi 12 Meter Jadi Daya Tarik Kasus Bocah Hilang di Kyoto Terungkap, Ayah Tiri Akui Membunuh Korban Sekuel “Godzilla Minus One” Resmi Diumumkan, Berlatar 1949 dan Tayang 2026 Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan

News

AI dan Mesin Otonom Ubah Masa Depan Konstruksi Bendungan di Jepang

badge-check


					AI dan Mesin Otonom Ubah Masa Depan Konstruksi Bendungan di Jepang Perbesar

Dua buldoser hijau dengan mulus menyebarkan campuran kerikil dan semen di lokasi konstruksi bendungan di pegunungan, diikuti oleh empat roller getar yang meratakan lapisan segar tersebut. Tak satu pun dari mesin berat ini dikendalikan oleh manusia.

Penggunaan alat berat otonom dulunya jarang terlihat di proyek konstruksi, tetapi dengan semakin parahnya kekurangan tenaga kerja, kontraktor mulai mengadopsi teknologi ini. Mesin-mesin ini dapat bekerja tanpa henti, melakukan tugas berat dengan kecepatan dan presisi tinggi.

Sistem konstruksi otonom A4CSEL (Quad Accel), yang dikembangkan oleh kontraktor besar Kajima Corp., telah digunakan di proyek Bendungan Naruse di desa Higashi-Naruse sejak 2020. Hingga 14 mesin tanpa awak telah beroperasi secara bersamaan, membangun sebagian besar struktur bendungan yang masif.

Pada musim panas 2024, pekerjaan teknik sipil memasuki tahap krusial dengan kecerdasan buatan (AI) memainkan peran utama. AI menentukan pola operasional optimal menggunakan simulasi berbasis kendali manusia atas alat berat. Dengan mengombinasikan hingga 7.000 tugas mikro, AI menyarankan metode paling efisien untuk mengoperasikan beberapa kendaraan sekaligus.

Mesin otonom ini dapat bekerja sepanjang waktu, menggantikan sistem tiga shift pekerja manusia. “Mustahil bagi manusia untuk melakukan semua tugas dengan konsistensi yang sama, tetapi mesin bisa,” kata Kenichi Hamamoto, peneliti senior di Kajima Technical Research Institute.

Industri teknik dan konstruksi Jepang sebelumnya lambat dalam mengembangkan teknologi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Meskipun otomatisasi prosedur konstruksi mulai muncul pada akhir 1980-an, pengembangannya tertunda karena kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan di daerah pedesaan.

Namun, krisis tenaga kerja akibat rendahnya angka kelahiran dan populasi yang menua membuat otomatisasi tak bisa lagi dihindari. “Sebelum mesin mengambil alih pekerjaan kami, proyek konstruksi sendiri sudah mulai sulit dilaksanakan,” kenang Hamamoto.

Jumlah pekerja konstruksi mencapai puncaknya di 6,85 juta orang pada 1997, tetapi turun 30 persen menjadi 4,79 juta pada 2022. Angka ini diperkirakan akan berkurang 20 persen lagi pada 2040.

Citra industri konstruksi yang melelahkan dan berbahaya membuat generasi muda enggan bergabung. Saat ini, satu dari empat pekerja konstruksi berusia 60 tahun atau lebih dan sebagian besar akan pensiun dalam satu dekade ke depan.

Kajima mulai mengembangkan teknologi konstruksi otonomnya sendiri pada 2009. Teknologi ini pertama kali digunakan dalam proyek bendungan di Prefektur Fukuoka pada 2015.

Dalam proyek Bendungan Naruse di Prefektur Akita, AI mengatur alur kerja yang paling efisien. Untuk menyelesaikan bendungan sepanjang 755 meter, banyak lapisan setebal 75 cm dari semen dan bahan lainnya harus dibentuk. Dibutuhkan 70 jam untuk meratakan satu lapisan.

Dengan 14 kendaraan bekerja bersamaan, volume konstruksi bulanan di Bendungan Naruse telah melampaui rekor nasional sebelumnya dalam proyek pembangunan bendungan.

Sc : asahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Honda Jual Mobil Listrik Buatan China di Jepang, Pertama Kalinya untuk Pasar Domestik

17 April 2026 - 13:10 WIB

Jalur Alpen Tateyama Kembali Dibuka, Tembok Salju Setinggi 12 Meter Jadi Daya Tarik

17 April 2026 - 10:10 WIB

Kasus Bocah Hilang di Kyoto Terungkap, Ayah Tiri Akui Membunuh Korban

17 April 2026 - 09:42 WIB

Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan

16 April 2026 - 14:10 WIB

Bocah 11 Tahun yang Hilang di Kyoto Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Dugaan Kejahatan

16 April 2026 - 11:10 WIB

Trending on News