Menu

Dark Mode
Jepang Mulai Lindungi Suara Seiyuu dari Penyalahgunaan AI Arc Baru Re Season 4 Mulai Tayang 12 Agustus Masuk Toko Pokémon Card Store di Jepang Kini Wajib Scan Wajah Demi Basmi Penimbun Kartu Honda Kembangkan Tangan Robot Canggih, Siap Gantikan Pekerjaan di Pabrik? Film Chiikawa Resmi Tayang di Indonesia Mulai 28 Agustus Serangan Beruang di Jepang Pecahkan Rekor, Pemerintah Kini Kurangi Populasi Beruang

Teknologi

AI di Jepang Kini Bisa “Menerjemahkan” Tangisan Bayi, Bantu Orang Tua Tahu Penyebabnya

badge-check


					AI di Jepang Kini Bisa “Menerjemahkan” Tangisan Bayi, Bantu Orang Tua Tahu Penyebabnya Perbesar

Mulai dari lapar hingga merasa tidak nyaman, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di Jepang kini dikembangkan untuk membantu menerjemahkan tangisan bayi. Teknologi ini diharapkan dapat membantu para orang tua memahami penyebab bayi menangis sekaligus mengurangi kecemasan saat mengasuh anak.

Tangisan bayi yang sering kali tidak memiliki penyebab yang jelas menjadi salah satu sumber stres terbesar bagi orang tua, terutama bagi mereka yang baru memiliki anak. Melihat kebutuhan tersebut, sejumlah pengembang di Jepang menghadirkan aplikasi AI yang mampu menganalisis suara tangisan bayi dan memperkirakan penyebabnya.

Salah satunya adalah Babylingual, aplikasi gratis yang dirilis pada Maret lalu oleh Moto Numazawa (25), seorang ayah muda asal Kota Chigasaki, Prefektur Kanagawa.

Dalam sebuah demonstrasi pada akhir April, Numazawa mengarahkan ponselnya ke putranya yang baru berusia tiga bulan, Saku. Beberapa detik kemudian, aplikasi menampilkan hasil analisis berupa pesan “Aku lapar.”

Selain itu, aplikasi juga menunjukkan tingkat kemungkinan penyebab tangisan dibandingkan dengan kemungkinan lainnya, serta memberikan saran seperti “Mungkin sudah waktunya menyusu.”

Saat itu memang sudah tiga jam berlalu sejak Saku terakhir menyusu. Setelah diberi ASI, bayi tersebut langsung tertidur di pelukan ibunya.

Babylingual memanfaatkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa bayi memiliki pola tangisan yang berbeda sesuai kebutuhannya, seperti lapar, mengantuk, atau tidak nyaman. Aplikasi ini mengelompokkan tangisan ke dalam lima pola utama.

Selain menerjemahkan tangisan, aplikasi juga memungkinkan orang tua menyimpan rekaman suara bayi untuk dibagikan kepada anggota keluarga atau pengasuh lainnya, serta menyediakan panduan suara yang dirancang untuk membantu menenangkan bayi agar lebih mudah tertidur.

Moto Numazawa mulai mengembangkan aplikasi ini setelah istrinya hamil. Berbekal pengalaman di bidang komputer, ia melihat semakin banyak keluarga inti di Jepang yang harus membesarkan anak tanpa banyak bantuan dari orang tua maupun kerabat.

Istrinya, Yu, mengaku aplikasi tersebut sangat membantunya memahami kebutuhan putranya dalam situasi yang sulit ditebak.

“Saya tidak tahu kalau dia menangis karena perutnya kembung akibat banyak gas. Aplikasi ini membantu saya memahaminya,” ujarnya.

Meski orang tua pada akhirnya akan mengenali pola tangisan anak mereka sendiri, Moto berharap teknologi ini dapat menjadi pendamping dalam proses tersebut.

“Orang tua dan anak sama-sama belajar dan berkembang bersama. Saya berharap aplikasi ini dapat membantu komunikasi di antara mereka,” katanya.

Pengembangan teknologi serupa juga dilakukan oleh perusahaan rintisan Cross Medicine Inc. yang berbasis di Universitas Tokushima.

Perusahaan tersebut mengembangkan aplikasi bernama Awababy, yang menggunakan AI hasil pelatihan dari lebih dari 160.000 rekaman tangisan bayi, serta data mengenai berbagai cara menenangkan bayi.

Awababy mampu mengenali 11 jenis emosi yang berbeda dan memberikan rekomendasi tindakan yang dapat dilakukan orang tua.

Menurut Presiden Cross Medicine, Koga Nakai, aplikasi ini paling sering digunakan pada tengah malam, ketika orang tua kesulitan mencari bantuan atau berkonsultasi dengan orang lain.

Perusahaan juga menilai teknologi tersebut berpotensi membantu mengurangi risiko depresi pascamelahirkan (postpartum depression).

Saat ini, penggunaan Awababy mulai diperluas melalui program dukungan pengasuhan anak pemerintah daerah maupun program kesejahteraan karyawan di sejumlah perusahaan.

Pada Maret lalu, Kota Mishima di Prefektur Shizuoka mengadakan uji coba penggunaan Awababy bagi warganya dan sedang mempertimbangkan untuk menyediakan layanan tersebut secara gratis.

Sementara itu, Kota Oyama di prefektur yang sama telah mulai membagikan akun pengguna kepada para orang tua yang memiliki anak yang lahir mulai 1 April.

Kepala perawat kesehatan masyarakat Divisi Promosi Kesehatan Kota Oyama, Tomomi Ohata, berharap aplikasi tersebut dapat membuat para orang tua lebih memahami apa yang sedang dirasakan bayi mereka.

“Aplikasi ini akan membantu orang tua lebih memperhatikan apa yang ingin disampaikan bayi melalui tangisannya, sekaligus mengurangi kecemasan mereka,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Honda Kembangkan Tangan Robot Canggih, Siap Gantikan Pekerjaan di Pabrik?

6 August 2026 - 12:30 WIB

Jepang Kembangkan Kembang Api Ramah Lingkungan, Sisa Ledakannya Bisa Larut dalam Sehari

3 August 2026 - 15:10 WIB

KDDI Luncurkan Aplikasi AI dengan Jawaban Bersumber dari Media Resmi Jepang

29 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Mulai Operasikan Taksi Mini Berbahan Bakar Gas Pertama

3 July 2026 - 07:11 WIB

Lembaga Anilis Audio Jepang Ciptakan Musik Pengantar Tidur Bayi, Ditonton Jutaan Kali

22 June 2026 - 10:10 WIB

Trending on Teknologi