Bank of Japan (BOJ) bersiap menaikkan suku bunga acuannya menjadi 0,75% dari posisi saat ini 0,50% pada pertemuan dewan dua hari yang berlangsung hingga Jumat depan, menurut sumber yang memahami situasi internal BOJ. Langkah ini diambil di tengah tekanan inflasi yang terus berlanjut akibat kenaikan biaya produksi.
Jika keputusan ini disahkan, suku bunga Jepang akan berada di level tertinggi sejak September 1995, sekaligus menjadi kenaikan pertama sejak Januari. Hal ini menandakan perubahan sikap BOJ dari kebijakan “mengakhiri deflasi” menuju fokus baru untuk menanggulangi inflasi.
BOJ diperkirakan akan membuat keputusan final setelah mengonfirmasi bahwa dampak tarif tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump masih terbatas. Informasi penting juga akan datang dari survei sentimen bisnis kuartalan Tankan yang dirilis pada Senin mendatang.
Menurut sumber tersebut, BOJ menilai perusahaan-perusahaan Jepang kini lebih bersedia menaikkan gaji karyawan. Jika kenaikan upah mampu melampaui inflasi, dampak negatif dari harga-harga yang terus naik dapat berkurang.
Pergerakan ini terjadi di saat yen masih melemah, yang mendorong naiknya biaya impor dan mempercepat inflasi domestik. Sementara itu, janji Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk meningkatkan belanja publik demi memperkuat ekonomi telah turut mendorong naik suku bunga jangka panjang.
Keputusan suku bunga ditetapkan melalui pemungutan suara sembilan anggota dewan BOJ. Dalam pertemuan Oktober lalu, dua anggota sudah mengusulkan kenaikan suku bunga ke 0,75%, dan kini lebih banyak anggota diyakini melihat risiko inflasi yang meningkat, sehingga dukungan mayoritas disebut makin mungkin.
Pemerintah di bawah Takaichi, yang dikenal berpandangan longgar dalam kebijakan fiskal, juga mulai menunjukkan kesiapan menerima kenaikan suku bunga, terutama karena pelemahan yen telah memperburuk harga kebutuhan pokok seperti makanan dan energi.
Kenaikan suku bunga berpotensi mempersempit selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Hal ini dapat memperkuat yen dan menekan harga impor yang selama ini mendorong tekanan biaya bagi rumah tangga.
Awal bulan ini, Gubernur BOJ Kazuo Ueda menyatakan bahwa bank sentral akan memutuskan di pertemuan Desember apakah suku bunga perlu dinaikkan. Menteri Keuangan Satsuki Katayama juga mengatakan pekan lalu bahwa komunikasi dengan Ueda berjalan sangat baik, meski keputusan operasional tetap sepenuhnya berada di tangan BOJ.
Kenaikan suku bunga semakin mungkin terjadi karena imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun kini bergerak tepat di bawah 2%, level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kondisi fiskal Jepang.
Kesehatan fiskal Jepang diketahui paling buruk di antara negara-negara G7. Namun Takaichi—yang baru menjabat sejak Oktober—telah menyatakan kesiapan menerbitkan lebih banyak obligasi untuk menutupi defisit demi mendorong permintaan domestik.
Sc : KN







