Sekilas, kaleng matcha itu tampak asli, lengkap dengan nama merek ternama Isuzu serta berbagai keterangan produk lainnya.
Matcha asal Jepang memang sangat populer hingga produsen ternama Marukyu Koyamaen membatasi jumlah pembelian per pelanggan demi mencegah penimbunan.
Namun Matsatsugu Nonomura, yang menangani penjualan internasional perusahaan tersebut, langsung tahu bahwa kaleng Isuzu matcha yang sedang ia pegang adalah barang tiruan.
Warna kalengnya hitam, bukan putih seperti produk asli, dan aroma, warna, serta rasanya pun berbeda.
“Matcha kami, Isuzu, memiliki warna yang sangat indah dan aroma yang benar-benar luar biasa,” jelasnya.
“Matcha tiruan asal China ini memiliki warna dan aroma yang buruk.”
Popularitas matcha melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir, sementara para petani Jepang kesulitan memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Menambah pasokan dengan cepat bukanlah hal mudah. Tanaman teh membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk tumbuh, sementara proses pembuatan matcha sendiri sangat rumit. Tanaman harus dinaungi selama sekitar tiga minggu sebelum panen untuk meningkatkan kadar klorofil dan asam amino. Setelah dipanen, daun teh dikukus selama 10 detik, dikeringkan dengan udara, lalu digiling menggunakan batu tradisional yang hanya mampu menghasilkan sekitar 40 gram matcha per jam.
Pelabelan matcha hampir tidak diatur secara ketat. Sejumlah produsen Jepang khawatir pihak tak bertanggung jawab di China memanfaatkan tingginya permintaan dengan menjual teh berkualitas rendah yang dilabeli sebagai matcha Jepang.
Meskipun siapa pun bisa membuat matcha, para produsen mengatakan mereka menemukan produk di luar negeri yang meniru nama merek terkenal Jepang atau secara keliru mengklaim berasal dari daerah penghasil teh ternama seperti Uji.
“Para produsen bekerja tanpa lelah untuk menyediakan produk berkualitas tinggi bagi konsumen,” kata Nonomura.
“Namun upaya tersebut kini dirusak oleh maraknya produk palsu.”
Matcha merupakan teh hijau yang sangat khas, dengan sejarah di Jepang yang telah berlangsung setidaknya selama 400 tahun. Dalam beberapa waktu terakhir, popularitasnya melonjak berkat media sosial, dengan banyak orang memuji manfaat kesehatannya, rasa umami yang kaya, serta efek kafein yang lebih lembut dibanding kopi.
Kini matcha umum digunakan dalam latte, kue, dan es krim di kafe-kafe di seluruh dunia. Namun ini bukan kali pertama permintaannya melonjak. Kekurangan matcha pernah terjadi pada 1990-an saat Haagen-Dazs meluncurkan es krim rasa teh hijau di Jepang, lalu kembali terjadi pada 2000-an ketika Starbucks mulai menjual matcha latte.
Popularitas terbaru ini menjadi berkah bagi petani seperti Jintaro Yamamoto. Ia mengatakan sangat menggembirakan melihat budaya Jepang dan tradisi bersejarahnya diakui oleh masyarakat dunia.
Produksi matcha meningkat hampir tiga kali lipat dari 2010 hingga 2023. Tahun lalu, saat tren media sosial mulai memuncak, ekspor teh hijau Jepang mencetak rekor setelah melonjak 25 persen hanya dalam satu tahun. Tahun ini, rekor tersebut kembali terlampaui, dengan penjualan matcha dari Januari hingga September sudah melampaui total penjualan sepanjang 2024.
Namun minat yang luar biasa ini juga memicu kelangkaan. Yamamoto mengaku menyesal karena tidak mampu memenuhi permintaan dari seluruh dunia.
Banyak petani juga masih ragu apakah popularitas matcha akan bertahan lama atau hanya tren sementara. Ada kekhawatiran bahwa peningkatan produksi matcha justru akan mengorbankan pasokan teh hijau lainnya, yang masih sangat digemari konsumen Jepang.
Di Uji, salah satu daerah penghasil teh paling bergengsi di Jepang, antrean panjang wisatawan terlihat di depan toko-toko matcha, dengan rak-rak yang habis dalam hitungan jam setelah toko buka.
Membeli langsung dari sumber masih relatif aman, tetapi Nonomura terus memantau meningkatnya distributor daring yang menyesatkan. Beberapa produk matcha asal China meniru nama dan kemasan merek Jepang terkenal, sementara yang lain secara keliru mengklaim berasal dari daerah seperti Uji.
“Jika konsumen membeli sesuatu yang mereka kira matcha Uji, lalu rasanya jauh dari harapan, ada risiko mereka berhenti membeli matcha sama sekali,” katanya.
“Jika produk palsu ini menyebar tidak hanya di China tetapi juga ke seluruh dunia, dampaknya akan sangat merusak pasar.”
Kementerian Pertanian Jepang mengakui bahwa produk palsu meningkat seiring melonjaknya popularitas matcha, meski sulit menentukan jumlah pastinya. Penanganan masalah ini pun tidak mudah.
Kata “matcha” sendiri tidak dapat didaftarkan sebagai merek dagang, tetapi istilah seperti “Uji matcha” bisa. Pemerintah Jepang telah mendorong pendaftaran merek tersebut di luar negeri dan mengklaim berhasil melobi China untuk menindak produk menyesatkan.
“Kami memahami pernah ada kasus, misalnya perusahaan China yang tidak terkait dengan Uji mengajukan pendaftaran merek ‘Uji Matcha’ di China,” kata Tomoyuki Kawai dari divisi teh kementerian tersebut.
“Namun otoritas China menolaknya.”
Meski begitu, ia mengakui bahwa ketika satu produk bermasalah ditindak, produk lain sering muncul kembali.
Hubungan China dan Jepang sendiri tengah memburuk setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyiratkan kemungkinan keterlibatan Jepang dalam konflik Taiwan.
China memiliki sejarah panjang dalam produksi teh hijau, namun matcha berasal dari Jepang. Nonomura menegaskan bahwa jika produsen China ingin membuat matcha, mereka harus jujur dalam hal merek dan asal-usul.
“Jika mereka yakin produknya berkualitas, China seharusnya bersaing dengan merek mereka sendiri,” ujarnya.
ABC telah menghubungi Administrasi Kekayaan Intelektual Nasional China, namun tidak menerima tanggapan.







