Jepang untuk pertama kalinya mencatat “kokushobi” atau hari dengan panas ekstrem setelah Badan Meteorologi Jepang (JMA) resmi memperkenalkan istilah tersebut pada tahun ini.
Pada Selasa, suhu di tiga kota berhasil menembus angka 40 derajat Celsius. Kota Tajimi di Prefektur Gifu mencatat suhu 40,3°C, Kota Gujo 40,0°C, sementara Kota Toyota di Prefektur Aichi mencapai 40,1°C.
Istilah kokushobi mulai digunakan JMA sejak April 2026 untuk menandai hari ketika suhu mencapai 40°C atau lebih, sebagai peringatan khusus agar masyarakat lebih waspada terhadap cuaca yang sangat berbahaya.
JMA memperkirakan cuaca panas akan terus berlanjut di berbagai wilayah Jepang dalam beberapa hari ke depan dan mengimbau masyarakat untuk mencegah heatstroke dengan menjaga hidrasi, menghindari aktivitas di bawah terik matahari, serta memanfaatkan pendingin ruangan.
Gelombang panas ini juga telah memakan korban jiwa. Dua pria, masing-masing berusia 70-an tahun di Prefektur Kanagawa dan 40-an tahun di Prefektur Niigata, meninggal dunia setelah ditemukan pingsan di jalan pada Senin. Sehari kemudian, seorang perempuan berusia 80-an tahun di Prefektur Niigata juga meninggal akibat heatstroke setelah ditemukan tidak sadarkan diri di rumahnya.
Hingga pukul 15.00 waktu setempat, dari 914 titik pengamatan cuaca di Jepang, sebanyak 731 lokasi mencatat suhu di atas 30°C, sementara 272 lokasi mengalami “moshobi” atau hari dengan suhu minimal 35°C, di luar tiga kota yang telah masuk kategori kokushobi.
Menurut JMA, kondisi ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang sejak akhir pekan menyelimuti sebagian besar wilayah Jepang sehingga meningkatkan suhu udara di permukaan maupun lapisan atmosfer atas.
Selain tiga kota yang menembus 40°C, Kota Nagoya juga nyaris mencapainya dengan suhu 39,7°C, sedangkan Kota Kumagaya di Prefektur Saitama mencatat 38,6°C.
Sc : KN








